Chapter 3: Lady of the Bran Castle

 

“Dan Nona tidak berubah sama sekali. Tigabelas tahun tidak cukup lama untuk membuat keisengan anda luntur.”

“Kau tidak tahu hal-hal yang akan dilakukan oleh mereka yang abadi untuk mencegah kebosanan,” sang Nona menarik tangannya dan menurunkan tudung merahnya. Rambut emasnya panjang terurai mencapai lutut.

“Kebosanan adalah takdir yang lebih mengerikan dari kematian,” ia lalu memberikan isyarat dengan tangannya untuk mempersilakan Vance berdiri.

“Namun saya masih tidak mengerti alasan saya dipanggil ke sini. Tentunya bukan hanya untuk memberikan tontonan berselera rendah pada bangsawan yang kebosanan?”

“Tidak kusangka tigabelas tahun cukup membuat lidahmu menjadi tajam, Vance, namun khusus untuk saat ini kulupakan sikap kurang ajar barusan karena sebaiknya kita tidak menyia-nyiakan reuni ini,” sang Nona lalu berjalan melintasi aula yang kotor penuh dengan debu dan kini berbau busuk seperti mayat terbakar. Aimee dan si gadis berkepang dua menyingkir untuk memberi jalan pada Nona mereka. Sang Nona pun duduk di atas singgasana yang tadinya didudukin oleh Count palsu. Tubuhnya yang kecil membuat singgasana tampak lebih besar dan megah.

“Bulan sedang indah malam ini. Semuanya mengingatkanku pada tigabelas tahun yang lalu saat kau harus pergi.”

“Aku tidak ingat saat aku harus pergi harus menghabisi sekelompok vampir.”

“Anggap saja semacam latihan untuk mengingat apa yang sudah kau pelajari sampai saat ini. Setidaknya aku yakin otakmu masih bekerja setelah menghabiskan waktu di rawa-rawa melawan mayat hidup selama satu dekade ini. Tentunya kau masih mampu mengingat tentang ketika kau meninggalkanku sendirian.”

“Terimakasih, Nona, namun kalau anda seperti ini terus tidak heran kalau anda bisa selalu sendirian.”

“Hei! Jaga kata-katamu di depan, Nona!” seru si gadis berkepang dua sambil menunjuk pada Vance. Ia tampak terlihat geram dengan ekspresi setengah muak melihat seorang manusia dan juga pemburu vampir menghina Nonanya.

“Tenang, Violetta. Ia bisa dibilang memilikiku jadi biarkan dia bicara apa adanya. Kalau ada yang harus memotong lidah kotor itu, hanya aku yang boleh melakukannya.”

“Nona! Apa maksudmu dengan pria kotor ini memilikimu!” Violetta mulai kesal dengan jawaban Nonanya, “Kalau ia melakukan sesuatu yang aneh aku tidak segan akan menghabisi-“

“Kau tidak akan menghabisi siapa-siapa, Violetta,” sang Nona mengangkat tangannya memberikan perintah absolut bagi Violetta untuk berhenti berbicara, “Bukan saja hanya karena ia adalah pemburu vampir dan bukan tandinganmu, namun juga aku telah memutuskan tidak ada yang boleh menyentuh nyawa pria ini selain diriku.”

Violetta jatuh terdiam. Beberapa kali ia mencoba membuka mulutnya untuk protes namun senyum sang Nona padanya lebih kuat dari ribuan bentakan untuk meyakinkan dirinya tidak ada gunanya mencoba berkata-kata lagi. Ia melempar pandangan ke arah Aimee mencari dukungan namun sang maid kepala tampak terdiam seperti biasa. Akhirnya ia melempar pandangan jijik pada Vance dan menjulurkan lidahnya.

“Maafkan tukang kebun kami, Vance. Dia succubus namun tidak punya pengalaman interaksi dengan pria jadi kadang-kadang Violetta bisa agak sulit diajak berbicara.”

“Tidak apa-apa. Pekerjaanku banyak mengurusi orang-orang yang sulit diajak berbicara.”

Vance lalu membalas hinaan dari Violetta dengan senyuman dan hal ini hanya membuat si gadis semakin jengkel.

“Jadi apakah keperluan Nona memanggil saya ke sini setelah tigabelas tahun? Tentunya adalah sesuatu yang sangat penting untuk memanggil pemburu vampir ke hadapan seorang Lady dari klan Dracul, terlebih lagi karena Anda telah memanggil seorang penerus Van Helsing.”

“Tidak sekalipun aku meragukan kemampuan kalian, para pemburu vampir dari Van Helsing, bagaimanapun aku telah melihat langsung bagaimana kalian beraksi. Klan Dracul dan keluarga Van Helsing telah memiliki sejarah baik dan buruk hampir setua satu abad.”

“Dan mengapa saya? Maafkan apabila saya terkesan meragukan penilaian Nona, Vance Hawthorne ini bukan berasal dari keluarga utama. Sehebat apa pun kemampuan saya tidak akan bisa menyamai mereka yang berasal dari keluarga-keluarga penerus sang pemburu vampir. Apabila Nona ingin meminta untuk perlindungan dari vampir lain atau pembasmian-“

“Vance,” sang Nona menyela dengan halus. Wajahnya tampak terhibur dan tersenyum yakin.

“Seluruh vampir di Eropa tahu tidak ada hal baik yang didapatkan dari berhadapan dengan klan Dracul. Hal-hal seperti pembasmian tidak memerlukan bantuan dari pihak luar seperti Van Helsing. Aku tidak meminta kau di sini untuk melakukan pekerjaan kotor itu.”

“Dan apakah yang kau inginkan dari diriku, Nona?”

Senyum sang Nona menjadi semakin lebar. Dengan semangat ia berdiri dari singgasananya sambil mengibaskan mantol merahnya. Telunjuknya terangkat ke atas sebelum akhirnya tertuju pada sosok manusia di depannya.

“Vance Hawthorne! Mulai saat ini saya, Lady Lucy Westenra dari klan Dracul, menunjukmu sebagai butler pribadiku dan chamberlain kepala seluruh kediaman keluarga Dracul!” serunya dengan lantang dan yakin sembari melepaskan kejutan bagi yang lain di aula tersebut, “Terimalah tugasmu dengan bangga!”

===

“Nona, tolong jelaskan sekali lagi! Saya masih tidak mengerti lelucon yang tadi!”

“Ini bukan lelucon, bodoh. Bagian mana yang kau tidak mengerti dari ‘aku menerimamu sebagai pelayan pribadiku?’”

Lucy dan Vance berjalan melewati koridor-koridor kastil yang tak berjendela. Langkah Lucy yang cepat dan kadang-kadang disertai lompatan-lompatan kecil seperti anak yang sedang gembira membuat bahkan pria dewasa seperti Vance harus mempercepat langkahnya.

“Bagian yang mulai tidak masuk akal atau dengan kata lain semua omong kosong ini.”

“Kau mau mengatakan kalau kata-kataku adalah omong kosong?” ujar Lucy sambil membalik badannya menghadap Vance dan mulai berjalan mundur.

“Tidak ada yang masuk akal dari ide Nona! Saya adalah seorang pemburu vampir dan Nona adalah-“

“Vance… Vance…” Lucy kembali membalikkan badannya, “Aku kira tiga belas tahun bukanlah waktu yang cukup untuk bagimu melupakan sebuah janji. Ini adalah kesempatanmu, kalau aku memang milikmu bukankah sudah jadi kewajibanmu untuk mengurusi semua keperluanku?”

“Nona, tapi saya adalah seorang pemburu vampir… Apa yang akan dikatakan vampir yang lain?”

“Yang lain akan semakin tahu untuk tidak menyentuh sang Nona keluarga Dracul.”

Mereka sampai di depan pintu kayu yang tampak lebih megah daripada pintu-pintu ruangan lainnya.

“Hal ini sebaiknya kita bicarakan di tempat yang lebih pribadi.”

Dengan jentikan jari, pintu tersebut terbuka dan mereka memasuki sebuah kamar tidur yang megah dilengkapi dengan ruang tamunya sendiri. Kamar tersebut dihiasi warna merah dan lampu-lampu yang dimodel seperti chandelier. Walaupun memancarkan kemegahan, di lantai kamar berserakan berbagai koran dan majalah. Menariknya dari cara mereka ditinggalkan terbuka sepertinya siapa pun yang berlangganan hanya tertarik dengan bagian teka-teki dan puzzle.

“Silakan cari tempat duduk yang nyaman. Kita bisa bicara lebih nyaman di sini.”

Lucy kembali menjetikkan jarinya dan pintu tertutup. Dengan perasaan agak canggung karena memasuki kamar seorang gadis, Vance menggantung jaketnya di gantungan dekat pintu dan duduk di salah satu kursi yang tersedia di kamar. Sang Nona berjalan menuju ke tempat tidurnya yang megah dan berkelambu dan melemparkan mantol merahnya ke atas kasur.

“Nona… Bisakah Anda menjelaskan padaku dengan sangat perlahan dan detail. Tentunya Anda tidak melakukan semua hal ini hanya karena janji yang kita buat. Apa yang akan Count lakukan apabila beliau tahu Anda sampai melakukan-“

“Count Dracula telah mati,” jawab Lucy dengan ringan sambil naik ke atas kasur.

“Eh?”

“Selain mereka yang sangat dekat dengan beliau, tidak ada yang tahu mengenai fakta tersebut. Sampai saat ini kami menggunakan strigoi untuk meyakinkan kalau sang Count masih ada di bumi. Bahkan para vampir yang tergabung dalam Convent kami tidak mengetahuinya.”

“Count Dracula… Beliau adalah vampir yang bisa dikatakan saat ini terkuat di dunia. Tidak ada satu pun vampir yang dapat melakuinya, hanya Abraham Van Helsing…”

“…yang bisa melakukannya. Itu pun adalah pertanyaan kami. Siapa… bukan… apa yang telah membunuh Master?” Lucy tampak terlihat kosong dan di awang-awang, “Hal ini terjadi tiga tahun yang lalu. Tidak ada yang menjadi saksi dari kematian beliau.”

Lucy pun turun dari kasur dan duduk di kursi berhadapan dengan Vance.

“Sudah lama hanya aku sendirian tinggal di kastil ini. Sang Count menghabiskan sisa kehidupan semunya di Kastil Hunyad, salah satu kastil milik klan Dracul. Semua pelayan bahkan chamberlain kepala ditemukan telah dihabisi.”

“Apakah mungkin yang melakukan adalah pemburu vampir?”

“Tidak ada pemburu vampir di zaman ini yang mampu menyamai Abraham Van Helsing… yah mungkin kau tapi apakah kau yang membunuh Count Dracul?” tanya Lucy sambil menunjuk pada Vance.

Ia menjawab dengan menggelengkan kepala.

“Tentu saja. Count Dracula sama seperti kekuatan besar bahkan di antara para vampir sendiri. Beliau sangat berpengaruh dan berkuasa mengendalikan keluarga-keluarga bangsawan lainnya yang tersebar di seluruh Eropa bahkan sampai ke Asia, Afrika, dan Amerika. Apabila kabar kematian beliau tersebar maka ketidakseimbangan dalam poros kekuatan akan terjadi dan keluarga-keluarga bangsawan yang lain akan mulai berseteru satu sama lain memperebutkan kuasa lebih.

“Aku tidak terlalu mempermasalahkan kalau mereka ingin membunuh satu sama lain namun pertempuran besar seperti ini pastinya akan menuntut korban sipil dan apabila ada darah manusia yang tertumpah karena peseteruan bodoh ini…”

“Takhta Suci dan Ouroboros akan menemukan alasan untuk mengangkat senjata,” lanjut Vance dengan suara tertekan. Ia tidak dapat membayangkan kalau kedua organisasi tersebut, yang sejak dahulu berseteru sama lain, tiba-tiba memutuskan untuk terjun ke dalam konflik. Saat ini perseteruan-perseteruan kecil dapat memicu perang di antara mereka.

“Para inkuisitor dan penyihir dengan senang hati akan membersihkan semua darah vampir dari daratan Eropa. Bagi mereka kita hanyalah predator untuk manusia.”

“Bahkan saya yang bekerja memburu penghisap darah dan mahkluk-mahkluk kegelapan tidak ingin melihat mereka ikut campur seperti itu.”

“Lihat kan? Untuk itulah kami berusaha sebisa mungkin tidak membocorkan hal ini ke klan lainnya.”

“Namun sampai sekarang kabar tersebut belum tersebar? Hal ini hanya menunjukkan siapa pun yang melakukannya bukanlah dari keluarga bangsawan lain.”

“Tepat sekali!” seru Lucy sembari menyilangkan kakinya, “Siapa pun yang melakukan ini tentunya sangat cerdas. Apabila yang melakukan adalah klan tertentu maka kabar akan cepat menyebar karena tidak ada satu pun vampir yang dapat memasuki teritori vampir lainnya apabila tidak diundang.”

“Dan hal ini menunjukkan siapa pun yang melakukannya tidak memiliki karakteristik vampir. Mungkinkah hal ini dilakukan oleh penyihir atau inkuisitor?”

“Aku tidak ingin membuang hipotesis itu namun saat ini aku sendiri kurang yakin. Apakah keuntungan yang didapat dari membunuh vampir bangsawan terkuat di Eropa yang dijaga oleh mahkluk-mahkluk kegelapan? Apabila rencana pembunuhan ini turun dari kedua organisasi tersebut pasti akan terlihat suatu pergerakan namun selama tiga tahun aku tidak melihat adanya hal yang mencurigakan dan hanya orang gila yang mau melakukan hal itu semua untuk alasan pribadi.”

“Lalu di bagian manakah peran saya masuk?”

===

“Nona Fran… Semua parameter di sekitar kastil telah aman. Tidak ada satu pun yang keluar dari kastil selama 45 menit terakhir ini.”

Seorang pria besar dengan suara menggema melaporkan pada seorang gadis yang jauh lebih kecil dari ukurannya. Gadis berambut ikal itu hanya berdiri sampai setinggi lutut pria bongsor tersebut namun dari cara bicaranya, pria tersebut menempatkan si gadis di posisi yang jauh lebih tinggi darinya.

“Operasi ini telah berjalan baik. Nona besar dan Nona Aimee menyampaikan rasa terimakasih mereka pada anda.”

Gadis itu menjawab dengan anggukan. Tidak ada satu pun perubahan ekspresi di wajahnya.

Tidak lama waktu berselang, beberapa ekor anjing hitam mendekati mereka dan dalam sekejap mereka telah berubah menjadi pria besar seperti pria pertama. Penampakan mereka gelap dan seperti mengeluarkan kegelapan dari tubuh.

Mahkluk-mahkluk seperti ini memang ditugaskan untuk menjaga Kastil Bran dan mereka melapor langsung pada sang penjaga gerbang sendiri.

Klap! Klap! Klap!

Gadis itu lalu bertepuk tangan kecil dengan ekspresi yang tetap sama namun apabila mahkluk-mahkluk kegelapan itu punya wajah mereka pasti saat ini sudah mengeluarkan ekspresi gembira dan senang. Bagi mereka tidak ada yang mengalahkan prioritas menjalan tugas sebaiknya tidak peduli seberapa sederhana tugas mereka seperti hanya menjadi penjaga.

Suasana tenang pun tiba-tiba pecah dengan adanya suara ledakan kecil.

Beberapa dari mahkluk itu kembali berubah wujud menjadi anjing besar dan menerjang ke arah datangnya suara. Namun suatu kilatan cahaya terang menghapus keberadaan mahkluk-mahkluk itu menjadi hanya sekedar asap.

“Cahaya matahari? Bukan-“

Seebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, pria tersebut juga telah musnah menjadi asap diselimuti cahaya tersebut. Gadis tersebut mundur mengambil jarak namun untungnya cahaya tersebut tidak berpengaruh apa-apa padanya.

Beberapa orang bersenjata dengan kostum lengkap menyerbu masuk melewati tembok. Tanpa berbicara apa-apa mereka segera menyerbu mahkluk yang mereka lihat di tempat itu yaitu si gadis. Mereka mengeluarkan pisau komando dan menghunuskan ke arah lawan mereka. Saat ini mereka tahu untuk tidak mengasihani siapa pun di dalam kastil, tidak peduli apakah di hadapan mereka adalah sosok gadis kecil.

Dan siapa pun yang memberitahu mereka sangatlah benar.

Dalam sekejap si gadis menyarangkan pukulan ke salah satu mereka dan menghancurkan tubuhnya seakan-akan terhantam suatu kekuatan luar biasa. Darah dan bagian tubuh berhamburan ke mana-mana tidak peduli walaupun ia telah mengenakan semua bentuk pertahanan dan rompi anti peluru.

Tidak ada bedanya dengan orang kedua. Sebuah tendangan dan tubuhnya sudah berhamburan.

Melihat pemandangan yang mengerikan itu, tiga orang yang lain segera melepaskan tembakan ke arah si gadis.

Pada saat ini entah kenapa mereka sudah tidak heran kalau apa pun yang mereka lakukan tidak ada gunanya. Walaupun semua peluru bersarang namun sepertinya tidak ada bekas luka yang signifikan dan tidak ada darah yang mengalir dari lubang-lubang di tubuh si gadis.

Saat mereka sedang bingung mempertanyakan apa yang sedang dihadapi, gadis itu mengambil sebongkah batu seukuran mobil sedan dan melemparkannya pada mereka. Tiga orang pria dewasa dan terlatih telah berubah menjadi sesuatu yang hanyalah remukan tulang dan gumpalan organ yang diratakan. Gadis itu hanya memandang tanpa ekspresi ke arah hasil perbatannya dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah sepanjang tembok.

Beberapa orang telah melewati tembok kastil dan mereka membawa peralatan untuk melawan apa pun yang ada di dalam daerah kastil ini.

Gadis itu lalu mendesah. Malam ini ia ditugaskan untuk menjaga supaya tidak ada yang keluar namun ia melupakan tugas paling sederhananya, menjaga supaya tidak ada yang masuk. Tentunya masalah seperti ini dapat dengan mudah diatasi pada ujungnya namun ia punya sedikit harga diri sebagai penjaga gerbang untuk dijaga.

===

“Selama tiga bulan kita menunggu dan menunggu dan menunggu dan tidak ada satu pun petunjuk yang muncul,” keluh Lucy sambil membolak-balik halaman tabloid di atas meja, “sampai akhirnya aku memutuskan untuk bertindak.”

Ia berdiri dari kursi dan berjalan ke arah Vance. Mata mereka saling menatap sejajar.

“Aku memerlukanmu untuk melindungiku, Vance.”

Sambil membalik badan, Lucy lompat ke atas pangkuan Vance yang terkejut. Seperti yang ia duga, tubuh sang Nona sangat ringan seperti memangku boneka walaupun gadis di depannya setidaknya memiliki tubuh setara dengan manusia berusia 13 tahun.

“Aku akan ke London, ke kampung halamanku dan tempat di mana Count Dracul mengalami kekalahan besarnya, dan aku akan mengumumkan kalau mulai sekarang aku akan mengambil posisi beliau sebagai pemimpin seluruh darah bangsawan.”

“Bukankah akan terlalu nekad melakukan hal itu, Nona?”

“Saat hal itu terjadi kita akan melihat satu per satu para Bangsawan akan mencoba untuk menghabisiku. Namun pada akhirnya mereka hanyalah vampir,” Lucy membalik badannya dan kini di atas pangkuan Vance mata biru sang nona menatapnya langsung dengan sangat dekat. Ia merangkul pundak Vance dan berbisik halus, “Bukanlah tandingan bagi dia yang bertugas membunuh mereka.”

“Namun bukankah itu berarti Nona harus berhadapan dengan pemburu vampir lainnya? Kita sedang membicarakan London. Kota yang dulu adalah pusat dunia.”

“Sejak kekalahan besar, keluarga Dracul hanyalah bayang-bayang di bawah kekuasaan Van Helsing. Klan ini dan seluruh asetnya hanyalah sandra yang digunakan keluarga Van Helsing supaya mereka tidak diambil alih oleh Gereja atau beradu pedang dengan para penyihir. Pada ujungnya para penerus Van Helsing tidak ingin mengambil pihak dan untuk tetap berada di posisi netral, mereka, yang tidak lain hanyalah sekumpulan amatir di bawah bimbingan Abraham, sadar kalau memerlukan aset yang luar biasa. Aset tersebut adalah sang vampir yang memegang kuasa atas vampir lain.

“Vance Hawthorne, kau adalah pemburu vampir yang dibesarkan di bawah bimbingan keluarga Van Helsing sendiri. Kalau kau ada di pihakku artinya para pemburu vampir tahu kalau vampir kecil ini tidak akan berbuat yang aneh-aneh karena ada pembunuh yang lebih hebat lagi siap memotong nadinya.”

Jarinya kecil Lucy kini mengelus-elus leher Vance, mencari-cari detak jantung sang pemburu vampir.

“Namun dengan aku bersamamu maka kau juga bisa melindungiku dari vampir lain yang berusaha mengambil alih kekuasaan.”

Lucy membuka mulutnya menunjukkan gigi-giginya yang tajam. Mata Vance menatap sifat vampir yang paling khas tersebut. Namun sang nona hanya mencium pipi kiri dan pergi dari pangkuannya.

“Untuk setengah oleh-oleh keberuntunganmu,” ujar Lucy dengan gembira, “Kau bahkan tidak menarik pisaumu. Siapa yang mau datang ke pemakanmu kalau tadi sudah kurobek lehermu?”

“Kalau saya harus dimakamkan karena tingkah Anda tadi maka saya pribadi meminta di batu nisan tertulis ‘Vance Hawthorne. Meninggal karena selera humor yang buruk’.”

Lucy tertegun dengan jawabannya dan tertawa.

“Saya tahu Nona tidak akan melakukan hal seperti itu.”

“Betul sekali, Vance. Meminum darah seperti itu bukanlah cara yang elegan. Hanya orang-orang kampung yang mau bertindak sebarbar itu.”

“Seperti vampir lainnya?”

Pertanyaan Vance membuat Lucy tertegun sejenak sebelum sang Nona kembali menari-nari kecil sambil tersenyum nakal.

“Inilah yang membedakan pemburu vampir yang sebenarnya dengan orang-orang nekad yang menyia-nyiakan hidup mereka,” sebuah putaran kecil dan kembali mengambil posisi berdiri dengan elegan, “Bisa membedakan yang mana vampir dan yang mana hanya strigoi.”

“Sekitar tigapuluh jumlahnya… Bukankah itu berarti Nona baru saja membiarkanku menghabisi seluruh vampir yang ada di Convent Romania?” ujar Vance sambil membalik-balik halaman majalah. Di dalamnya banyak sekali coret-coretan angka-angka yang sepertinya dibuat untuk menyelesaikan teka-teki silang.

“Menarik kan? Kalau aku mengumumkan kematian sang Count kepada yang lain, tanpa diragukan lagi merekalah yang akan pertama kali memberontak dan mencoba untuk membuatku turun. Yang kulakukan hanyalah mengambil langkah pertama sebelum yang lain mengambilnya.”

Sang Nona lalu duduk di atas kasur dan melepaskan sepatu merahnya. Ia lalu melemparkannya ke lantai.

“Termasuk ketiga selir sang Count…”

“Terutama mereka. Lagipula kalau aku perhatikan sejak kekalahan besar itu, Count sudah bosan dengan mereka. Mereka hanyalah vampir-vampir kelas bawah yang ditarik untuk menggantikan trio yang sebelumnya. Tidak ada bedanya dengan artis musiman.”

Dan lalu melepas stokingnya.

“Dengan begini aku telah membersihkan kotoran yang tidak perlu dengan cara yang masuk akal. Tidak heran kan kalau saat pesta di kastil Bran, seorang pemburu vampir datang dan membantai semuanya dan pada akhirnya ia berhasil dikalahkan walaupun harus banyak korban berjatuhan. Akhirnya mereka akan dilihat sebagai pahlawan bukan sebagai data statistika korban belaka.”

Vance bertepuk tangan kecil.

“Bravo… Nona sebaiknya mulai menulis skenario film.”

“Lucu sekali, Vance.”

“Tapi Nona… saya pribadi masih belum dapat mencerna semua yang terjadi. Maksud saya… sampai beberapa jam yang lalu  saya hanyalah freelancer. Pindah dari satu negara ke negara lain mencari pekerjaan. Menanamkan pasak ke dada mahkluk-mahkluk seperti Anda… dan sekarang kini saya berdiri di hadapan Nona diminta menjadi pelayan mahkluk yang seharusnya  saya lawan dan habisi. Mahkluk-mahkluk di luar batas imajinasi manusia yang selama ini saya telah dilatih untuk melawan. Kini ada satu yang justru meminta saya untuk melayaninya dan sedang dengan masa bodo melepaskan pakaiannya di hadapan saya.”

Vance menangkap gaun yang dilemparkan sang Nona padanya. Kini sang Nona berdiri di hadapannya hanya mengenakan gaun dalam dan Vance dapat melihat seluruh kulitnya yang putih pucat bagaikan porselen. Di hatinya bergerak semacam emosi yang sangat kuat. Bukan nafsu melainkan kekaguman tersendiri yang tak dapat dijelaskannya. Suatu rasa kagum seperti mengamati keindahan suatu karya seni. Kekaguman yang mampu membuat orang gila seperti saat mengamati rupa bulan purnama.

Lucy tersenyum menyeringai menunjukkan giginya.

“Dan apa katamu, Vance Hawthorne? Kau takut menerima tugas ini?”

“Sebaliknya, Nona,” ujar Vance sambil berdiri dan menjatuhkan gaun sang Nona ke atas lantai, “Jiwa ini sangat bergetar dengan kuatnya. Semua janji bodoh yang saya buat, yang telah menghantui hati ini selama bertahun-tahun, akhirnya terkuak lagi di hadapan saya. Tubuh ini takkan pernah siap menerimanya.”

“Jawaban bagus sekali, Vance Hawthorne,” bisik Lucy sambil memegang tali gaun dalamnya, “Dan satu lagi… Apa yang kau lihat di hadapanmu ini?”

Dengan tarikan halus, gaun dalam sang Nona jatuh ke lantai memperlihatkan tubuh mungil tak berbusana. Satu-satunya potongan kain yang melekat adalah choker hitam yang melilit lehernya. Rambutnya yang panjang terurai seperti menjadi jubah untuk menutupi keindahan yang menyakitkan tersebut dari dipandang oleh dunia.

Vance maju ke depan. Di tengah godaan vampir yang begitu kuat dan konon tak dapat ditahan oleh manusia biasa, pikirannya justru tak pernah serasa lebih tajam dan jelas daripada sebelumnya.

Bukanlah seorang gadis biasa yang menjadi objek nafsu. Bukanlah anak manusia biasa yang rapuh dan lemah. Bukanlah monster biasa yang harus dihentikan.

“Lucy Westenra Dracul… Nonaku yang harus kupertahankan dengan seluruh hidupku…” Vance berlutut di hadapan sang Nona, meraih tangannya dan menciumnya, “Di hadapanku adalah arti hidup.”

“Lindungi aku, Vance. Aku yang di sini sudah tidak bernyawa, kaulah yang memegangnya,” bisik Lucy dengan halus.

“Vance Hawthorne menerima kehormatan ini,” jawab sang pelayan putri kegelapan dengan mantap.

Advertisements