Prologue: A Little Promise under Full Moon

Di bawah bulan purnama bocah itu duduk sendirian di tengah hamparan bunga mawar. Taman mawar itu bagaikan lautan yang mengelilingi kastil tua yang berdiri dengan megah di tengah-tengahnya. Dengan tembok tinggi yang mengelilingi kastil itu, bukan untuk melindungi apa yang ada di dalam kastil namun untuk melindungi mereka yang di luar.

Dan bocah itu sibuk sendirian di tengah dinginnya terpaan angin malam musim panas. Jari-jemarinya yang kecil menari-nari bersama dengan kelopak-kelopak mawar berwarna merah dan hitam. Dingin yang menusuk jelas terlihat di wajahnya namun tidak terlihat di semangatnya yang disibukkan dengan untaian kelopak mawar di tangannya.

“Apa yang sedang kau lakukan?” suara lembut menyadarkannya dari kesibukan pikirannya. Bocah itu pun berdiri dan menatap sosok di belakangnya. Dengan cepat ia menyembunyikan untaian mawar tersebut di balik badannya.

“Nona.”

Gadis yang dipanggilnya nona maju ke depan dan dengan bermandikan sinar bulan purnama, si bocah bisa melihat sosok seorang gadis muda dengan kulit pucat dan rambut emas yang terurai panjang. Tubuhnya yang mungil mengenakan gaun malam dan matanya yang biru terang menyamarkan sinar bulan purnama.

“Apa yang kau lakukan malam-malam ini?” tanya gadis itu.

“Ah… eh…”

“Apa yang kau sembunyikan di balik sana?” lanjutnya sambil berusaha mengintip apa yang disembunyikan si bocah.

Dengan gugup si bocah menunjukkan rangkaian bunga yang dibuatnya.

“Oh… ya ampun…”

“Ini untuk Nona. Beberapa maid mengajarkanku cara membuatnya.”

“Tapi… tanganmu…”

Wajah si bocah memerah dan dengan malu ia menyembunyikan tangannya yang kotor dan merah.

Si gadis tertawa kecil.

“Aku ingin kau yang memakaikannya padaku,” bisiknya sambil tersenyum.

“Ah, Nona!”

Sebelum sempat berkata apa-apa lagi, gadis itu sudah duduk bersimpuh di depannya.

“Aku dengar kau akan pergi besok,” bisik gadis itu. Kali ini senyum tak tampak lagi di wajahnya tergantikan dengan wajah yang sedih.

“Eh…” bocah itu terdiam sebelum akhirnya berusaha untuk mengeluarkan kata-kata dari mulutnya, “O-oleh karena itu aku berusaha membuat ini untuk Nona. Aku tidak tahu apa yang bisa aku berikan mengingat apa yang telah Nona dan Count berikan padaku.”

Mendengar jawaban bocah itu, si gadis tertawa kecil lagi.

“Kamu sopan sekali. Kuharap kau akan menjadi pria hebat,” dan untuk sesaat senyumnya hilang kembali, “dan aku berharap kita masih dapat bermain bersama lagi.”

Ekspresi tenang si gadis yang dipenuhi kesedihan membuat bocah itu semakin merasa bersalah.

“Jangan takut, Nona!” serunya dengan agak lantang. Suaranya bagaikan satu-satunya tanda kehidupan di kastil tua itu. “Apa pun yang terjadi aku berjanji, aku kembali hanya akan untuk Nona!”

“Kau mau datang kembali untuk membunuhku?”

“Ah… bukan…”

“Tentunya kau akan terbiasa menghabisi kaum sepertiku.”

Ketika itu si bocah seperti merasakan kehabisan semua kata-kata. Tidak ada yang salah dengan jawaban gadis di hadapannya namun pada saat yang sama ia juga tidak mau percaya dengan apa yang terjadi. Namun dengan semua keberanian dari dalam pikirannya yang sederhana, ia pun berseru.

“K-kalau begitu aku berjanji! Nyawa Nona hanyalah milikku. Tak ada yang boleh mengambilnya. Hanya aku yang boleh!”

Si gadis menatapnya dengan heran. Bocah itu hanya tertunduk malu setelah mengucapkan kata-kata yang sama sekali tidak dipikirkannya.

“Kamu mengklaim nyawa seorang Lady?” tanyanya dan lalu ia kembali tersenyum, “Kalau begitu mulai sekarang nyawaku hanyalah milikmu!”

“Eh?”

“Bayaran yang sesuai kan? Mulai sekarang saat kau kembali bertemu denganku lagi nyawaku adalah milikmu. Kau akan bertanggungjawab penuh. Kau harus melindunginya dengan segenap kekuatanmu. Bagaimana kedengarannya?”

Bocah yang masih lugu itu tidak mengerti dengan pasti maksud si gadis namun ia menjawab dengan anggukkan dan senyum yang mantap.

“I-Ini untuk Nona.”

Kepala si gadis tertunduk. Si bocah dengan lembut meletakkan untaian mawar itu di atas kepalanya. Mawar yang gelap bagaikan menjadi mahkota mengelilingi rambut emasnya.

“Sekarang giliranku,” ujarnya seraya berdiri menghadap si bocah, “Aku keluar mencarimu untuk memberikan sesuatu. Tak disangka aku akan menemukanmu sendirian di tengah udara dingin seperti ini bermain-main di taman. Bodohnya kau.”

Bocah itu dengan ragu-ragu berlutut di satu kaki. Melihat tingkahnya yang gugup dan canggung, si gadis tetawa lagi.

“Sekarang tutup matamu.”

Bocah itu mengikuti perintah si gadis. Ia menutup matanya dan dengan hati berdebar ia bertanya-tanya apa yang akan diberikan Nonanya.

“Apa pun yang terjadi jangan buka matamu kecuali kalau kusuruh. Kalau tidak aku akan marah, kau tahu.”

Bocah itu lalu memejamkan matanya semakin kuat.

Sebuah kecupan pun melayang di bibirnya. Kecupan lembut dan manis. Walaupun begitu ia sama sekali tidak membuka matanya. Ia dengan pasrah menerima kecupan Nonanya dan tanpa ia sadari dinginnya malam sudah tidak terasa lagi dan untuk pertama kalinya sejak ia tak tahu kapan, ia merasakan kehangatan menyelimuti tubuh dan sampai ke hatinya.

“Buka matamu.”

Ketika ia membuka matanya, ia bisa melihat wajah Nonanya yang memerah di atas kulitnya yang pucat. Wajah senyum Nonanya terasa membuat jiwanya lebih tenang.

“Kalau saja kau bisa lihat wajahmu pasti akan ketawa. Kau terlihat seperti Rudolf.”

“A-apa maksud Nona dengan barusan-“

Sebelum ia melanjutkan, jari sang Nona telah menempel lembut di bibirnya.

“Jangan terlalu banyak berkata-kata,” bisiknya halus, “Biarkan kenangan tadi masuk sampai ke dalam dulu.

“Tadi adalah oleh-oleh untuk keberuntunganmu. Yang ini,” jari si Nona kini bergerak ke arah dada si bocah menunjuk pada sebuah pendant berbentuk mawar yang sebelumnya tidak ada, “Adalah untuk mengingatkanmu pada harta yang sudah kupercayakan.”

“Nona, aku takut… Aku tak mau-“

“Semua akan indah pada waktunya,” ujar sang Nona sambil berjalan-jalan mengitari hamparan bunga mawar, “Percayalah… tidak ada pertemuan yang sia-sia. Walaupun harus kuhabiskan keabadian, akan selalu kutunggu.”

Kedua tangannya lalu terangkat. Direntangkannya lebar-lebar seakan-akan seperti ingin memeluk seluruh jagad raya di hadapannya.

“Semua ini… Kastil Bran ini… akan selalu menunggumu.”

Dan dikatupkannya kedua tangannya di dadanya.

“Aku akan selalu menunggumu… Jadi jangan takut… Apabila jiwaku di tanganmu tentunya jiwa itu akan menuntunmu kembali padaku.”

Sang Nona pun tersenyum dan mendongak ke atas mengagumi indahnya bulan purnama.

Rambut Nonanya yang berkibar oleh angin malam. Mata birunya yang menatap pada kejauhan dipenuhi dengan bayang-bayang kesepian. Tubuhnya yang tampak mungil namun tegar bagaikan kristal. Semuanya itu mungkin tidak dimengerti seluruhnya oleh si bocah, namun ia tahu pasti.

Ia sudah menemukan untuk apa dia hidup.

Dan sebuah janji kecil yang dibuatnya di bawah bulan musim panas akan menjadi seluruh arti dari keberadaannya.

Advertisements