Chapter 2: Trap

“Kau gila! Apa yang sedang kau lakukan?” seru si gadis dengan ikal dua. Ia mulai bergerak maju namun Aimee menghentikannya.

“Apa maksudmu, pemburu vampir? Mengapa kau tidak memberikan padaku, Count Dracul, hormat yang layak didapatkannya?” tanya pria yang disebut sebagai Count pada si pemburu vampir yang kini lebih terlihat sibuk membersihkan kuku-kukunya.

“Oh? Mungkin jawabannya sudah jelas kan?” jawab Vance dengan tenang sambil meletakkan kopernya, “Aku tidak mungkin memberikan hormatku pada kelas rendahan.”

Sang Count mulai menggeram menunjukkan taring-taringnya. Matanya yang berwarna cokelat berubah menjadi merah darah.

“Manusia… Meletakkan dirinya lebih tinggi dari mereka yang tak dapat mati.”

Pintu besar di belakangnya terbanting menutup. Semua hadirin di ruangan itu mulai bergerak menuju sang pemburu vampir. Sosok dingin mereka kini dipenuhi dengan aura membunuh. Mereka menunjukkan taring dan kuku-kuku mereka yang tajam berharap untuk menanamkan rasa takut pada si pemburu vampir.

“Ada berapa jenis kalian di sini? Tiga puluh? Tiga puluh lawan satu? Bukankah menurutmu ini agak kurang adil?”

“Habisi dia!”

Dengan perintah singkat itu, tiga perempuan di sekeliling sang Count meluncur menuju Vance Hawthorne. Tampang menggoda mereka kini hilang dan wajah mereka tampak seperti ditarik ke atas menunjukkan taring-taring dan mulut yang siap mengoyak daging.

Akan tetapi sebelum mereka sempat mencapai sasaran mereka, tiga bilah pasak kayu meluncur menghantam tepat di jantung mereka masing-masing. Saat tersadar dengan apa yang terjadi dan sebelum mereka mampu menjauh dari si pemburu vampir, dengan kecepatan yang hampir tak terduga pasak-pasak tersebut telah dicabut dengan paksa sambil mengoyak jantung mereka ke atas dan menghancurkan kepala mereka. Ketiga tubuh perempuan itu jatuh di tanah dan mulai menegang seperti mayat. Tidak diperlukan waktu lama dan tubuh-tubuh menggoda itu telah berubah menjadi berkeriput dan akhirnya hancur seperti arang.

“Maksudku, kalau kalian berharap ingin seimbang mungkin sebaiknya perlu ada sekitar seratus,” ujar Vance dengan senyum di wajahnya. Ia kemudian menarik lagi beberapa pasak kayu dari dalam jaketnya. Melihat apa yang dilakukannya pada ketiga perempuan itu, beberapa hadirin mulai mengambil langkah mundur. Beberapa yang tadinya tampak yakin akan menikmati semacam makan malam spesial musim panas kini mulai mempertimbangkan untuk mencari selamat.

“Kalian semua! Habisi manusia ini!”

Perintah dari sang Count mengeraskan tekad mereka. Ada tiga puluh mereka dan hanya satu manusia. Seharusnya peluang mereka lebih baik, bahkan setidaknya apabila yang di sebelahmu harus mati kau masih memiliki harapan selamat dan mendapatkan nama baik dari sang Count.

Sayang sekali harapan tersebut harus sirna. Vance Hawthorne dengan cekatan menghindar dan berkelit dari semua cakaran, gigitan, cengkeraman yang diarahkan padanya. Yang terjadi justru satu per satu pasak-pasak kayu mulai tertanam di jantung para vampir. beberapa mengerang kesakitan dan beberapa telah menjadi abu. Dengan tenang Vance mengambil kembali pasak yang tersisa dan tak membiarkannya terlalu lama tidak bersarang di jantung vampir. Ketika ia merasa pasak mulai tidak mencukupi, ia mulai menarik keluar beberapa pernak-pernik kecil dari logam berbentuk salib. Satu per satu salib-salib kecil tersebut dilemparnya meluncur untuk bersarang ke dalam tubuh para vampir. Tidak memerlukan waktu lama sampai para vampir mulai mengerang-erang kesakitan dan tubuh mereka melepuh. Selanjutnya ia mengeluarkan sebuah arit dan mulai menghabisi sisanya dengan merobek jantung mereka keluar. Beberapa dari mereka berusaha lari namun hanya membuang-buang waktu dan tenaga mereka sebelum akhirnya seluruh hadirin di ruangan tersebut berubah menjadi tumpukan abu.

“Ah, maafkan saya, Miss Aimee! Sepertinya kotoran akan sulit dibersihkan,” ujarnya meminta maaf pada sang maid kepala.

Tanpa membuang waktu lagi, sang Count berdiri dan mulai berubah menjadi seekor anjing raksasa.

“Hoo… Menarik sekali,” ujar Vance ambil berdecak kagum.

Anjing tersebut berwarna hitam dan setinggi kira-kira hampir dua meter. Matanya berwarna merah dan rambutnya tampak bergoyang seakan berkobar-kobar seperti api neraka. Kukunya yang kuat tak diragukan mampu mematahkan tulang manusia dengan sekali kibasan.

Dengan sekali lompatan, sang Count yang berwujud anjing raksasa menerkam sosok di depannya. Berkali-kali dikoyak dan dicakarnya menjadi serpihan-serpihan kecil.

“Sayang sekali aku suka topi itu.”

Anjing itu menyadari kalau santapannya hanyalah topi fedora yang dikenakan oleh si pemburu vampir dan incarannya sendiri telah berdiri di belakangnya. Tepat sebelum anjing tersebut melanjutkan untuk menerkamnya, Vance telah menendang kopernya terbuka. Sepasang pasak kali ini terbuat dari logam dan diukir menyerupai salib dengan ujung lancip. pasak tersebut dihiasi dengan ukiran-ukiran mawar dan berbagai simbol keagamaan lainnya.

Tepat ketika mulut si anjing berada di depannya, Vance melompat dan melemparkan kedua pasak tersebut masing-masing tepat pada kedua mata anjing itu. Rasa sakit yang sangat kuat mulai menyerang tubuhnya dan kini anjing itu menggeram dan melolong. Ia seakan-akan menjadi gila sendiri tidak mampu menahan sakit. Tak lama kemudian ia merasakan tubuhnya menjadi basah. Sensasi basah lalu diikuti dengan panas. Tak lama kemudian tubuh anjing tersebut menyala dan terbakar menjadi abu.

Vance Hawthorne tampak sedang mengembalikan botol kaca ke dalam kopernya seperti seorang salesman yang baru saja memberikan peragaan produk.

“Air suci… Menggunakan benda seperti itu di sini… Kau gila juga, manusia!” seru si gadis berikal dua. Ia mundur berapa langkah sambil menutup hidungnya dengan jijik.

“Mr. Vance Hawthorne, sadarkah apa yang kau sudah lakukan? Kau baru saja membunuh bangsawan vampir paling berpengaruh di Eropa. Tentunya kau tidak beranggapan kami dan vampir lainnya akan tinggal diam?” Aimee bertanya dengan sopan tanpa meninggalkan tempatnya berdiri.

“Miss Aimee… Bukanlah maksudku untuk memberikan kritikan di kastil anda namun bukankah tidak sopan bagiku untuk memberikan hormat pada seekor strigoi?” ujar Vance sambil menunjuk dengan ibu jarinya pada onggokkan debu di tempat anjing tersebut tadi terbakar, “Walaupun aku tidak mengerti mengapa vampir-vampir yang lain tadi mau-maunya mengikuti seekor strigoi. Memang harus kuakui tadi adalah kostum yang sempurna.”

“Anda bisa tahu tadi adalah seekor strigoi?”

“Pengalaman berbicara lebih banyak dari buku. Kalau kau telah lama berburu kau bisa mengetahui apakah kau sedang memburu atau diburu dengan hanya mencium hasrat buruanmu. Tentunya seorang Count para vampir tidak akan tergesa-gesa ingin menyantap seorang pemburu vampir. Vampir yang berpengalaman seperti Count Dracul tentunya lebih memikirkan bagaimana cara untuk selamat ketika menghadapi pemburu vampir. Bukankah sebaiknya kalian menghentikan permainan tidak lucu ini? Tentunya setelah ini tidak akan ada yang muncul sambil mengatakan bagiku untuk tersenyum sambil melihat ke kamera?

“Lagipula,” Vance Hawthorne membalik badannya. Di belakangnya berdiri seorang gadis berambut emas dengan mantol merah. Ialah gadis yang tadi memberikan gelang bunga padanya.

“Kalau kau diharuskan memberi hormat bukankah lebih baik ditujukan pada sang darah bangsawan sebenarnya?” ia pun berlutut satu kaki dan mengambil tangan si gadis dan menciumnya, “Senang bertemu dengan anda lagi, My Lady.”

“Sudah tiga belas tahun berlalu dan tidak bisa dibohongi lagi, Vance Hawthorne?” jawab gadis itu.

Advertisements