Chapter 1: Invitation to Darkness

“Mr. Vance Hawthorne?”

“Yup,” jawab pria tersebut dengan anggukan.

“Silakan naik… Tuan besar telah menunggu anda.”

Pintu kereta kuda itu terbukan dengan sendirinya. Dengan tenang Vance Hawthorne masuk ke dalam dan duduk di bangsal yang menghadap punggung si sais.

Jam di lengannya menunjukkan waktu pukul 3 pagi dan ia tahu benar pada saat-saat seperti inilah kuasa jahat biasa menampakkan diri untuk mengganggu mereka yang masih hidup dan, untuk kasus ini, menyediakan jasa antar jemput bagi Vance Hawthorne menuju sebuah kastil kuno di atas gunung.

Dengan sekali cambukan, si sais memerintahkan kuda-kuda hitam bermata merah untuk mulai menarik kereta menaiki jalan sepanjang gunung yang berliku-liku. Jalan sangat sepi karena penduduk di sekitar Borgo Pass sudah tahu kalau kau sampai melihat si sais bertubuh besar dengan wajah tertutup bayang-bayang mengemudikan kereta kuda yang ditarik oleh kuda-kuda hitam di waktu seperti ini maka kau akan hidup dirundung kesialan. Namun mitos ini salah. Kau hanya bisa sial sekali kalau kau kebetulan nekad berdiri di jalan kereta kuda ini karena kereta tersebut tidak dikemudikan untuk mengurangi kecepatannya awalaupun sedang melewati jalan yang terjal dan berliku. Namun kalau kau sedang tidak sial setidaknya harus diakui kuda-kuda yang mampu menghasilkan percikan api saat kukunya menyentuh tanah sebenarnya cukup keren juga.

Vance Hawthorne sendiri tetap duduk tenang sambil memangku koper kecilnya. Ekspresi wajahnya terlalu tenang bahkan mengingat ia sedang menaiki kereta kuda yang sepertinya berbahan bakar kekuatan jahat (karena kereta kuda tidak bisa melayang tiba-tiba untuk menghindari jalan terjal). Memang harus ia akui kalau undangan yang diterimanya bukanlah suatu kejutan namun ia juga tahu kalau pertemuan ini bukanlah pertemuan biasa. Setidaknya yang mengundangnya bukanlah orang biasa. Inilah yang membuatnya rela jauh datang dari Jerman menuju Romania.

Dari jendela ia bisa melihat siluet dari tempat tujuannya, Kastil Bran, tampak berdiri megah di bawah bulan sabit musim panas. Jalan-jalan sepanjang Borgo Pass sangat sunyi dan sepi seperti tidak memiliki kehidupan walaupun kalau kau mampu melihat tembus kesepian di sekitar akan tampak jelas kalau kau tidak pernah sendirian di tempat ini.

Tidak memerlukan waktu lama sampai kereta kuda yang dinaiki Vance Hawthorne untuk berhenti di kompleks kastil. Sepasang gerbang besi berdiri dengan kokoh dan di sisinya tembok setinggi tiga meter yang mengelilingi Kastil Bran lengkap dengan patung-patung gargoyle yang sepertinya ingin menekankan kalau siapa pun yang mendekati tempat tersebut sebaiknya tidak membawa serta harapan akan melihat hari esok.

Dengan berat, gerbang besi tersebut terbuka dan kereta kuda melanjutkan perjalanannya. Kali ini pemandangan menjadi lebih fantastis. Ke mana pun mata memandang terhampar lautan bunga mawar berbagai warna. Taman bunga tersebut mengelilingi kastil bagaikan parit abad pertengahan. Angin malam yang meniupkan kelopak-kelopak mawar yang gugur di sekitar jalan karena hentakan kereta kuda membuat seakan-akan Kastil Bran bukan berada di dunia ini.

Kereta kuda akhirnya sampai di tujuannya, pintu utama kastil. Pintu pun kembali terbuka dengan sendirinya dan Vance turun sambil membawa kopernya. Si sais sudak tak terlihat namun Vance dapat melihat seekora anjing hitam besar berjalan menjauh dari kereta kuda. Sementara itu kuda-kuda hitam sedang berdiri tegak membiarkan surai-surainya yang tampak seperti kobaran api tertiup oleh angin.

“Selamat datang di Kastil Bran, Mr. Vance Hawthorne.”

Seorang gadis berpakaian maid sudah menantinya di bawah tangga marmer. Rambutnya berwarna merah padam sama seperti matanya yang tampak bercahaya dari kejauhan seperti mata binatang malam.

“Selamat malam,” ujar Vance sambil mengangkat topinya.

“Perkenalkan, saya Aimee dan saat ini saya bertanggungjawab sebagai maid kepala untuk Kastil Bran.”

“Senang bertemu denganmu, Aimee.”

“Maaf apabila saya terkesan kasar namun sebaiknya kita bergegas karena Tuan Besar tidak suka menunggu.”

“Yah, aku bisa mengerti itu. Lagipula di musim panas seperti ini matahari bisa terbit terlalu pagi.”

Dengan elegan, Aimee mendahului Vance menaiki tangga marmer. Sebuah pintu oak besar menanti mereka dan terbuka lebar menunjukkan pemandangan dalam kastil yang menakjubkan. Fresko di langit-langit yang menggambarkan malaikat-malaikat lengkap dengan bala tentara surgawi, chandelier dan ornamen-ornamen tangga bersepuh emas, semuanya menunjukkan kalau bagian dalam Kastil Bran lebih mirip istana dari sekedar kastil.

Ketika memasuki kastil, sebuah karpet merah telah digelar menyambut Vance, sesuatu yang menurutnya agak berlebihan untuk profesinya. Di kiri dan kanannya, para maid kastil berdiri membentuk barisan sambutan. Dengan serentak mereka mengucapkan selamat malam padanya.

“Jangan bilang kalian sampai melakukan gladi resik hanya untuk menyambutku.”

“Ini juga adalah pelajaran yang baik bagi para maid yang melayani keluarga Dracul.”

Sebuah tangga yang tak kalah besarnya membentang membawa Vance dan Aimee menuju mezzanine. Satu hal yang masih tak lepas di ingatannya adalah sebuah lukisan besar yang menggantung di aula itu. Lukisan yang menggambarkan seorang raja yang juga adalah penakluk dikelilingi hutan tombak-tombak yang tertanam di tanah menyula musuh-musuhnya. Lukisan tersebut tampak terlalu kejam untuk digantung di aula mewah seperti itu. Di bawah lukisan itu tergantung sebuah plat bertuliskan ‘Vlad III Dracul-Tepes, Penguasa Wallachia dan Transylvania’ dalam bahasa latin.

Mereka melanjutkan perjalanan mereka melewati sebuah pintu menuju suatu lorong yang lebih gelap dibanding aula yang baru saja mereka masuki. Di sepanjang lorong bergantung lukisan-lukisan yang tidak kalah mengerikannya. Beberapa hanya menggambarkan para bangsawan-bangsawan Romania sebelumnya namun beberapa juga menggambarkan penaklukan dan pembantaian dan penempakan-penampakan mahkluk-mahkluk mengerikan.

“Tuan… Tuan…”

Suara halus memanggil Vance dari belakang. Bajunya juga ditarik-tarik oleh tangan mungil.

Vance berbalik dan di belakangnya berdiri seorang gadis berambut emas dan bermata biru. Ia mengenakan mantol berwarna merah sambil membawa keranjang berisi bunga.

“Ini sebagai ungkapan selamat datang. Bisa juga sebagai jimat keberuntungan!” ujar gadis itu seraya menyerahkan sebuah gelang kecil yang terbuat dari untaian kelopak mawar.

“Wah, menarik sekali. Terimakasih banyak, Nona,” jawab Vance sambil menerima gelang tersebut. Ia pun mengenakannya di pergelangan tangan kanannya dan menunjukkannya pada si gadis sambil tersenyum.

“Selamat datang di Kastil Bran!” gadis itu pun lalu tersenyum dan pergi.

“Mr. Hawthorne,” suara Aimee menggema di ujung lorong memanggilnya. Ia pun bergegas menghampiri sang maid kepala yang kini berdiri di depan pintu.

“Maaf. Kastil ini sangat menarik jadi aku melihat-lihat sebentar.”

“Berikut adalah ruang audiensi. Tuan Besar telah menunggu di dalam,” ujar Aimee tanpa mempedulikan kata-kata Vance. Ia lalu mengetuk pintu sambil berkata halus, “Mr. Vance Hawthorne, pemburu vampir, telah tiba.”

Pintu terbuka dan menunjukkan sebuah aula yang lebih kecil namun tidak kalah indahnya dengan aula sebelumnya. Penerangan di aula tersebut sangat remang-remang dan semua jendela tertutup dengan gordin berwarna merah tua. Sulit sekali untuk melihat keadaan aula tersebut namun Vance yang terbiasa dengan kegelapan telah mengamati keadaan sekelilingnya.

Banyak yang berkumpul di aula itu, berpakaian rapih dan formal seperti menghadiri pesta. Di antara mereka tampak seperti maid kastil. Wajah semua yang ada di sana tampak pucat dan tak berekspresi. Mata mereka tampak lelah dan dingin. Benar-benar terlihat seperti mayat hidup.

Namun yang menjadi pusat perhatian Vance adalah sosok yang duduk di seberang aula. Duduk dengan angkuh di sebuah singgasana kebesaran, sosok itu mengenakan setelan formal hitam lengkap dengan jubah yang juga berwarna hitam. Seorang pria paruh baya persis dengan sang penakluk yang tampak di lukisan aula besar. Rambutnya yang kelabu bergelombang dan matanya yang cokelat kotor seperti tanah. Semua orang dapat menyadarinya kalau ialah sang Vlad III Dracul-Tepes. Sang penakluk duduk dikelilingi tiga wanita berpakaian menggoda dengan rambut terurai panjang. Kulit mereka juga pucat dan mata mereka tajam menatap pada Vance.

Aimee berjalan mendahuluinya menuju sang tuan dan lalu membisikkan sesuatu padanya. Ia lalu mundur dan masuk ke barisan di dekat singgasana sang tuan berdiri di sebelah seorang gadis muda belia berambut kemerahan yang diikat kepang dua.

Sambil membawa kopernya, Vance maju ke tengah-tengah aula. Aku kini dikelilingi oleh mayat hidup, pikirnya sambil tertawa dalam hati. Kondisinya tidak bisa lebih baik lagi.

“Mari kita berikan hormat pada Voivode dan Count penguasa Wallachia dan Transylvania,” seru Aimee sambil memberi aba-aba, “Count Vlad Dracul!”

Semua sosok di aula membungkuk pada sang Count memberi hormat. Kesunyian menggema di aula itu. Beberapa mulai bertanya-tanya kenapa sang Count belum memberikan mereka aba-aba untuk mendongakkan kepala mereka. Si gadis berkepang dua menelan ludah. Ada sesuatu yang salah, pikirnya. Ia pun memberanikan diri mendongakkan kepalanya sedikit dan melihat apa yang terjadi.

Dan yang ia lihat adalah sosok geram sang Count yang menatap pada Vance Hawthorne di hadapannya yang sedang berdiri tegak sambil tersenyum mengejek.

Advertisements