Tags

, , , ,

It’s a short story I wrote in my spare time back when I was working on my bachelor thesis. The theme is vampire and stuffs and I intended it to be horror-comedy-action. No, the vampires don’t glow under sunlight.

Anyway, I wrote this story in Indonesian so I beg your understanding since I only prioritized time and efficiency when writing this one.

Enjoy,

Transylvania, 1998

 

Sebuah limousin hitam melintasi jalan yang berliku-liku di antara pohon-pohon cemara yang berdiri kokoh bagaikan prajurit malam membentuk tirai hitam sepanjang jalan itu. Limousin hitam tersebut sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya yang sepertinya tidak pernah disentuh manusia. Lima jeep besar mendampingi limousin tersebut, dua di depan dan tiga di belakang, menggilas jalanan yang tidak lebih dari tanah berbatu yang sedikit lembab karena dinginnya udara gunung. Saat itu pukul 10 malam dan matahari musim panas baru saja hendak bersembunyi di balik pegunungan dan kegelapan mulai meliputi tempat itu seperti sebagaimana mestinya.

Ronald Sinclair adalah pengusaha Amerika dan seperti pengusaha Amerika lainnya, ia memiliki visi lebih dengan tempat yang saat ini sedang dilaluinya. Jalan-jalannya bisa diaspal. Pohon-pohon sebaiknya ditebang beberapa dan hutan ditipiskan. Tempat ini cocok untuk pembangunan villa, sejuk di saat musim panas dan bagaikan dunia lain saat musim dingin. Beberapa tempat perlu McDonald. ertimbangan-pertimbangan tersebut terus melintas di benaknya. Ia telah lama tertarik untuk mengembangkan ekspansi bisnisnya di Romania jadi ketika ia mendengan seorang aristokrat ingin kurang setuju dengan rencananya dan ingin bertatap muka langsung, Sinclair langsung membawa dirinya bertemu dengan aristokrat tersebut. Tentu saja ia harus membawa sedikit ‘penjagaan’, bukan karena ia perlu dijaga namun karena ia harus meyakinkan dirinya kalau hasil perjanjian itu harus ‘mengarah ke spektrum positif’. Apalagi ketika para pejabat di Romania tidak mau berurusan sama sekali dengan masalah yang satu ini, padahal mereka sangat mudah mengurus apa pun dengan sedikit upeti, ia tahu bahwa negosiasi ini akan menjadi agak rumit. Namun tak peduli dengan apa pun yang ia hadapi, Ronald Sinclair percaya, atau bahkan tahu dengan baik, akan hasil negosiasi tersebut. Bagaimapun sebagai orang Teksas ia memegang teguh prinsip ‘jangan macam-macam dengan Teksas’ dan saat ini Ronald Sinclair adalah Teksas berjalan.

“Sir, kita sudah bisa melihatnya,” ujar sekretarisnya sambl menunjuk ke seberang gunung.

“Kastil Bran…” lanjut Sinclair sambil mengamati melalui kaca limousinenya yang gelap. Ia tidak menyukai sinar matahari musim panas yang menyengt (kecuali sinar matahari Teksas) dan semua kaca mobilnya dipasangi film gelap, tentunya dengan sedikit pengecualian pada kabin supir. “Mr. Mortimer, bagaimana menurutmu dengan kondisi kita.”

“Semua akan lancar-lancar saja, Sir,” jawab Mortimer dengan nada seperti mengutarakan suatu hafalan.

“Betul sekali, Mortimer.” Sinclair memeriksa kembali peta provinsi Wallachia dan Transylvania di laptop pribadinya. “Bila dilihat dari cara para pejabat tersebut menjelaskan, sepertinya siapa pun keluarga aristokrat yang tinggal di sana kurang disukai. Mereka agak gemetar ketika menjelaskan. Mungkin karena penuh dendam kebencian. Siapa yang perlu aristokrat di zaman sekarang ini? Status itu bisa pergi dan hilang dengan cukup uang. Dan kuberitahukan padamu Mortimer, uang dan Ronald Sinclair tak akan pernah takut pada keluarga… keluarga…”

“Dracul, Sir.”

“Dracul, yah… Aku ingat namanya, Mortimer. Hanya saja sulit dijelaskan.” Sinclair lalu mengeluarkan tawa serak sebelum melanjutkan, “Nama mereka agak terlalu aneh, ya? Mungkin mereka adalah pecinta film horor. Apakah kau yakin itu adalah nama yang benar, Mortimer?”

“Keluarga Dracul sudah menjadi penguasa provinsi Transylvania dan Wallachia sejak tahun 1393. Bahkan setelah Romania menjadi republik konstitusional, kepala keluarga Dracul tetap memegang peranan Gubernur Propinsi.”

“Yah… yahh… Apa pun nama keluarga mereka tak akan culup untuk menakut-nakuti Ronald Sinclair dari Teksas. Di mana aku berasal, sapi dapat mengunyah werewolf untuk sarapan, tidak heran orang Teksas sepertiku memang ada untuk menguasai tempat-tempat kumuh seperti ini. Lagipula aku merasa kita berniat baik membersihkan daerah ini. Keh keh keh… sepertinya para penghisap darah gadungan itulah yang harusnya sujud bersyukur.” Sinclair menutup laptopnya dan meneguk anggur merah dari gelas Bohemian 10,000 dollarnya. “Kalau bicara vampir, satu-satunya vampir yang ada hanyalah wirswastawan sukses seperti Ronald Sinclair yang mengambil darah lawannya dan menjadikan mereka hambanya. Keh keh keh…”

Limousin tersebut semakin mendekati Kastil Bran dan dapat terlihat kemegahan kastil tersebut.

“Masih kalah dengan Caesar’s Palace,” komentar Sinclair dengan nada angkuh beraksen Teksas. Mortimer sendiri lebih jujur dengan perasaannya. Tangan kanan Sinclair yang biasanya jarang menunjukkan emosinya itu untuk kali ini mulai berkeringat dan menggigit bibirnya sendiri. Perasaan kagum dan takut berkembang semakin besar seiring berkurang jarak antara mereka dengan kastil. Ia sering mendengar banyak cerita seram tentang Romania, namun tidak pernah ia sangka kalau akan mampu mengintimidasi seperti ini.

“Mortimer!”

“Ya, Sir?” dengan gugup ia terbangun dari bengongannya. Bosnya tampak sudah tampak tak sabar.

“Ada apa dengamu? Cepat suruh mereka buka gerbang kastil tua ini! Aku tidak mau uangku jadi seusang tempat ini!”

Dengan gugup dan gemetaran, Mortimer turun dan memanggil beberapa orang lain dari jip depan. Ia pun berjalan menuju gerbang besi yang berdiri di hadapannya. Kakinya pun gemetaran membayangkan siapa yang harus dilindungi dengan gerbang raksasa yang terlihat seperti versi gelap dari gerbang Buckingham Palace. Dan ia mencoba untuk membayangkan apa yang hendak dijaga untuk tidak keluar dengan gerbang ini.

Ia dan tga orang lainnya yang juga terlihat gugup mencari semacam interkom, bel, atau apapun yang bisa digunakan untuk memberitahukan kedatangan mereka pada sang tuan rumah. Ketika mereka sibuk mengamati dan menyusur tembok di sekitar gerbang, sebuah suara menggema.

“Ada keperluan apa?”

Suara tersebut ada milik seorang wanita dengan nada yang sangat sopan. Namun efek gema yang dihasilkan mampu membuat jantung Mortimer serasa melompat. Ia lebih beruntung imagenya terjaga di depan si bos dibandingkan dua staf lainnya yang sudah berpelukan.

“Er… kami dari Sinclair International Inc. datang untuk membicarakan mengenai perjanjian hak kepemilikan tanah dari kepala keluarga Dracul.” Ia berusaha mengembalikan nada suara profesionalnya namun tanpa hasil.

Untuk sesaat tidak ada suara. Mortimer pun mulai bertanya-tanya dari mana datangnya suara perempuan tersebut. Apakah ada semacam interkom yang tidak terlihat?

“Maaf, bila ingin membawa mobil anda masuk, silakan bunyikan lonceng di sebelah kiri gerbang. Apabila anda ingin berjalan kaki menuju kastil, silakan gunakan pintu kecil di sebelah kanan. Saya sudah meminta supaya pintu tersebut dibukakan.”

Pikiran Mortimer saat itu sedang bukan dalam kondisi untuk mengkritik perlakuan yang diterimanya. Hanya ada dua hal yang menjadi pertimbangannya, bosnya pasti tidak akan mau disuruh berjalan kaki dan ia ingin supaya secepatnya bisa kembali ke limousin. Setelah menyadari keberadaan rantai hitam yang bergantung di dekat gerbang, ia pun memerintahkan yang lain untuk membunyikan bel sementara ia sendiri bergegas ke limousin.

“Pintu akan segera dibukakan… Sir.”

“Bagus-bagus. Kau sepertinya mengalami sedikit kesulitan di luar sana.”

Mortimer tidak menjawab. Ia hanya mengamati bagaimana gerbang yang meresahkan tersebut mulai terbuka.

Perjalanan pun kembali dilanjutkan dengan dipimpin oleh jip di depan.

Walaupun telah melewati gerbang utama, masih ada jarak yang jauh menuju bangunan kastil. Taman bunga berwarna merah dan hitam terhampar luas mengelilingi kastil raksasa bergaya neo-romantik tersebut. Secara keseluruhan, suasana di dalam kompleks kastil cukup membuat Mortimer yakin kalau ia berada di tempat yang salah. Ia pun semakin merasa melihat sesuatu yang aneh dari arah kastil, sesuatu yang tak dapat dijelaskannya.

“Lihat, Mortimer. Zaman seperti ini masih ada yang membuat kastil dan taman bunga untuk kepentingan pribadi. Betapa egois. Sangat tidak Teksas. Ingatkan aku untuk mengubah tempat ini menjadi hotel dan taman bermain. Aku yakin bisa menyaingi Disneland.”

Tentu saja Mortimer hanya bisa mengangguk-angguk sebagai jawaban.

Limousin dan pasukan jipnya berhenti di depan suatu set anak tangga yang megah menuju pintu masuk kastil yang terbuat dari kayu hitam. Sinclair dan Mortimer pun segera turun bersama beberapa pria bersetelan hitam dari jip-jip yang lain. Lingkungan kastil sangat sunyi hanya dengan suara angin bertiup untuk menandakan kalau mereka bukan di dunia orang mati. Namun Mortimer dan beberapa orang lainnya yakin kalau ada semacam keramaian yang mengelilingi mereka.

Sesosok wanita sudah menunggu mereka di bawah anak tangga.

“Panitia penerimaan yang megah,” gumam Sinclair.

“Selamat datang di Kastil Bran, Mr. Ronald Sinclair,” ujar wanita tersebut dengan suara tersopan yang pernah ada bahkan untuk ukuran Mortimer pun yang pernah belajar langsung dari John Robert Powers.

“Tuanmu tidak menyambutku langsung?”

“Maaf sekali, Mr. Sinclair. Beliau memang sering banyak urusan pada jam-jam seperti ini. Nama saya adalah Aimee dan silakan saya akan mengantar tuan-tuan untuk menemui Beliau.”

Aimee membungkuk dengan sangat elegan sebelum berbalik badan menaiki anak tangga. Mortimer merasa kalau ia adalah suara perempuan yang didengarnya saat di gerbang. Pada awalnya ia membayangkan pemilik suara itu adalah seperti imej sekretaris profesional dengan setelan dan kacamata namun Aimee adalah seorang maid. Maid sungguhan. Sesuatu yang tidak disangka akan dilihat Mortimer di zaman seperti ini. Ia mengenakan seragam maid berwarna merah gelap lengkap dengan apron dan hiasan kepala. Namun ada sesuatu yang membuat Mortimer agak resah. Sekilas ia melihat mata Aimee memiliki pupil tipis vertikal seperti kucing. Dan ia yakin sekali, sesuatu aneh yang dilihatnya di perjalanan menuju kastil sepeti sepasang cahaya merah mirip dengan warna mata Aimee. Lalu muncul di benaknya kalau mungking saja ia melihat mata Aimee menyala merah di kejauhan. Namun logikanya terus menjerit kalau mata manusia tidak bisa menyala.

“Tempat yang kuno. Aku yakin dalamnya pasti berdebu,” bisik Sinclair sambil menyikut Mortimer yang jelas tidak memperhatikan. Ia masih memandang dengan penuh takut ke arah maid di depannya. Seandainya saja ia berjalan agak di belakang mungkin ia sudah gemetaran seperti para supir yang tinggal di mobil masing-masing. Entah kenapa mereka merasa seperti sedang diawasi oleh ratusan bahkan ribuan pasang mata dari arah hutan di kejauhan.

Dengan sedikit dorongan dari Aimee, pintu yang berukuran dua kali orang dewasa pun terbuka.

Pemandangan di dalam kastil yang menyapa mereka lebih tampak seperti aula istana. Gantungan lilin dari emas, karpet merah, ornamen-ornamen di berbagai macam perangkat dan dinding yang berlapis emas, fresko megah yang menggambarkan langit lengkapn dengan malaikat-malaikat kecil dan mahkluk-mahkluk yang tampak seperti setan, tangga yang megah, dan tergantung di hadapan mereka adalah lukisan berukuran masif yang menunjukkan seorang ksatria abad pertengahan menusuk naga dengan tombaknya. Namun suatu detail membuat para pengunjung merasa tidak nyaman. Sang ksatria dikelilingi oleh tombak-tombak yang menjulang ke atas bagaikan hutan. Di ujung tombak tergantung sosok-sosok seperti mayat manusia.

“Beliau adalah kepala keluarga Dracul yang membawa nama Dracul menuju kejayaan. Vlad III Dracul-Tepes.”

Aimee kini membawa mereka menaiki tanga di bawah lukisan tersebut.

“Tangga lagi? Kalian orang Romania memang tidak praktis. Pernahkan kalian mendengan tentang elevator?”

“Naik tangga sangat baik untuk kesehatan. Khususnya bagi orang-orang sukses seperti kepala keluarga Dracul… dan tentu saja anda.”

Jawaban Aimee membuat Sinclair agak naik pitam.

“Aku kurang tahu kesuksesan majikanmu. Tidak pernah kudengar namanya di Amerika.”

“Betulkah?” tanya Aimee dengan nada agak terkejut namun masih dengan spektrum sangat sopan, “Seingatku Beliau sering masuk ke berbagai macam tulisan. Surat kabar, ensiklopedia, buku anak-anak, biografi dan novel. Dilihat bagaimana anda tidak mengenalnya, saya asumsikan semua orang Amerika pasti banyak yang masuk novel. Sayang sekali majikan kami hanya memiliki satu novel yang populer dan itu pun diterbitkan di Inggris.”

Sinclair semakin geram. Ia tidak tahu apakah maid kurangajar ini memang bertanya padanya atau mengolok-olok fakta kecil kalau ia tidak pernah dibuat novel. Apalagi buku anak-anak.

Mereka kali ini dituntun menuju salah satu koridor kastil. Koridor ini tidak seterang aula utama dan sepanjang koridor dipenuhi lukisan-lukisan yang tidak kalah dalam mengurangi kenyamanan dengan bagian kastil yang lain. Lukisan-lukisan yang menggambarkan perang, penyiksaan, dan beberapa menggambarkan mahkluk-mahkluk malam yang mengerikan. Mortimer merasa suasana ini memang sengaja dibuat karena siapapun yang menjadi tuan kastil ini tidak ingin merasa diganggu.

“Beliau akan menemui tuan-tuan di ruangan kerja.” Rombongan itu berhenti di depan sepasang pintu berornamen. Salah satu simbol yang paling jelas kelihatan menunjukkan sesosok naga yang melilit tombak.

“Silakan, Tuan-tuan.” Aimee pun membukakan pintu dan mempersilakan mereka masuk. Ia sendiri tidak ikut masuk dan dengan perlahan menutup pintu di belakang mereka.

Dibandingkan aula dan lorong yang baru dilalui, tidak ada yang terlihat janggal di ruangan kerja tersebut. Seperti ruangan kerja pada umumnya, ruangan tersebut dikelilingi oleh lemari dan kabinet berisikan buku-buku dan berbagai macam pernak-pernik seperti teleskop kecil, globe, dan benda lain yang biasa ditemukan di ruangan bos. Di seberang ruangan tergantung lukisan yang tidak sebesar lukisan di aula dan lukisan yang ini tampak lebih normal. Di lukisan tersebut tampak seorang gadis berambut emas panjang mencapai lutut sedang duduk di kursi berusia sekitar 12 atau 13 tahun. Ia mengenakan kostum zaman Victoria dan matanya yang berwarna emas menatap tajam ke arah siapa pun yang mengamati lukisan tersebut.

Di dekat lukisan tersebut terdapat sebuah meja kerja yang dipenuhi kertas. Seorang pemuda berambut perak berdiri di dekat meja tersebut. Ia mengenakan jas hitam rapih berekor panjang. Ketika ia menyadari kedatangan tamu-tamunya, pria itu tersenyum dan mengangguk lalu mempersilakan Sinclair dan Mortimer untuk duduk sementara yang lainnya berdiri di belakang mereka untuk merasakan sedikit kelegaan setelah di berada di bawah perasaan tertekan yang tak dapat dijelaskan.

“Jadi kamu kepala dari kastil ini?”

Pria tersebut menggeleng pelan.

“Pertama-tama izinkan saya meminta maaf terlebih dahulu. Bos saya saat ini sedang sibuk dengan kepentingannya dan saya di sini mewakili Beliau dan keluarga Dracul. Nama saya adalah Hawthorn Hesselius. Saya sudah mempelajari garis besar dari permasalah yang kita hadapi dan tanpa mengulur waktu saya kini sampaikan pesan dari Beliau.

“Kami dari keluarga Dracul dengan sangat terpaksa menolak proposal yang Sinclair Internationals Inc. tawarkan mengenai rencana pembangunan rantai fasilitas resort di daerah Transylvania dan Wallachia.”

“Apa?” seru Sinclair sambil mengepalkan tangannya, “bosmu sudah membuat keputusan seperti itu walaupun aku belum bertemu langsung dengannya untuk negosiasi? Bawa dia ke sini! Aku ingin dia mendengar secara mendetail tawaran yang aku berikan!”

“Beliau sudah mempelajari tawaran anda berkali-kali dan jujur saja ini bukanlah yang pertama kalinya. Provinsi Wallachia dan Transylvania adalah teritori khusus yang dihadiahkan pada pemerintah Romania pada kami dari keluarga Dracul, bahkan jauh sebelum terbentuk negara Romania kami sudah dipercaya untuk memegang kedua provinsi tersebut. Kalau kami boleh banggakan, kepercayaan itu tetap ada bahkan semasa rezim Causescu yang eksentrik. Lalu-“

“Aku tidak di sini untuk mendengar pelajaran sejarah dari kalian!” Sinclair semakin panas dan mulai memukul-mukul gagang kursinya. “Aku di sini ingin bicara bisnis! Tahukan kalian berapa waktu yang kubuang dari Teksas untuk sampai ke sini?”

“Sekitar 11 jam 23 menit 14 detik atau tambah 12 menit 4 detik bila menghitung waktu sejak dari pintu gerbang. Kami tahu pengorbanan yang anda buat dan dari yang kami pelajari dari proposal anda, memang anda melihat prospek dan potensi yang sangat baik untuk pengembangan tempat ini. Saya pribadi pun melihat kalau proyek anda dapat meningkatkan bidang pariwisata di Romania.”

“Lalu apa yang menjadi masalah?”

“Kepemilikan keluarga Dracul atas Transylvania dan Wallachia adalah sebuah nilai mati. Ini adalah semacam warisan budaya bagi Romania. Tentu saja kalau anda sudah berkonsultasi dengan Kementerian Dalam Neg-“

“Apakah kau positif tidak ada celah dalam diskusi ini,” gerutu Sinclair yang selama ini telah sukses ‘mengembangkan’ warisan budaya di tempat lain. “Aku bisa saja memenuhi apa pun yang diinginkan bosmu. Kalau ingin penggantian tanah, silakan! Akan aku berikan Transylvania dan Wallachia lain! Kalau ingin jabatan dan pembagian saham, silakan! Kata International dalam Sinclair Internationals Inc. bukanlah sekedar pajangan.”

“Ya, kami tahu pasti keuntungan yang dapat kami peroleh melalui kerjasama dengan perusahaan anda,” ujar Hesselius dengan nada tenang seakan-akan seorang pengurus anak profesional dari Inggris yang menghadapi anak bermasalah keluarga lain, “namun semua tempat yang anda tulis adalah harga mati bagi keluarga Dracul. Kasti Bran, Kastil Poenari, Katil Hunyad, Borgo Pass, semua desa-desa dan semua tempat yang anda masukkan di tawaran anda adalah milik kebanggan keluarga Dracul. Tidak peduli betapa kecil dan mungkin tampak tidak signifikan.”

“Aku benar-benar tidak percaya ini,” jawab Sinclair sambil mengigit bibir bawahnya.

“Jadi dengan terpaksa aku harus mengembalikan semua surat-surat anda. Setidaknya anda tidak perlu repot-repot mengeluarkan surat perjanjian.” Hesselius tersenyum sambil menyodorkan beberapa lembar kertas. Ketika ia melihat Sinclair tidak berniat untuk mengambilnya, dengan tenang ia menjatuhkannya di atas meja.

“Kalian akan sangat sangat sangat kecewa telah menolah tawaran Ronald Sinclair.”

“Ini Romania, Mr. Sinclair. Menahan kekecewaan adalah keahlian penduduk di sini.”

“Ini bukan diskusi. Kalian memang tidak berniat melepaskan apapun.”

“Itulah yang kami coba sampaikan pada pihak pemerintah. Namun mereka selalu buru-buru menutup telepon setiap kali kami hubungi.”

“Kurasa aku bisa mengerti kenapa.”

“Dan kami tahu mengapa,” dengan senyuman sopan Hesselius berdiri dengan tangan terjulur namun Sinclair masih dipenuhi kekesalan dengan perlakuan yang diterima oleh kaum ningrat berpikiran kuno ini. Dengan kecewa (dan senyum tentunya) Hesselius menarik tangannya sambil berkata, “saya pribadi meminta maaf dengan perlakuan yang anda terima. Keluarga Dracul memang agak kurang… komunikatif dalam hal ini. Setidaknya anda tidak datang sebagai notaris,” ia menyondongkan badan dengan sedikit berbisik, “keluarga Dracul selalu memiliki sejarah buruk dengan notaris.”

Hesselius pun tertawa kecil. Sinclair dan Mortimer terdiam sambil berusaha mencari bagian lucunya. Khusus untuk Mortimer, ia menelan ludah karena ia sendiri berperan sebagai notaris pribadi Ronald Sinclair dan ia tidak mau bermasalah dengan para penghuni kastil ini. Apalagi kalau sampai disuruh menginap di sini. Dalam hatinya pun muncul suara-suara pemberontak yang tidak pernah ada dalam jiwa profesionalnya yang mengatakan pada dirinya kalau ide mengubah kastil ini menjadi hotel adalah ide terburuk di dunia.

“Ya… ya… kami harap suatu hari kami bisa bekerjasama dengan Sinclair Internationals Inc. Mungkin dalam bidang lain yang kami harap dapat membawa keuntungan bagi kedua belah pi-“

Sebelum Hesselius sempat menyelesaikan ucapannya, sebuah pintu di sebelah kiri ruang kerja berderit terbuka. Seorang gadis terlihat berdiri di sana. Rambut emas lurus bergelombang mencapai lutut, mata berwarna biru muda, dan terlihat murni seperti bunga lily. Ia mengenakan gaun musim panas yang entah kenapa serasa seperti berasal dari bukan masa ini. Secara keseluruhan gadis itu pun tidak terlihat seperti gadis remaja lainnya. Ia lebih terlihat seperti apa yang terjadi kalau kau mengambil satu malaikat dari lukisan zaman romantik dan meletakkannya sebagai orang di depanmu. Sinclair dan Mortimer segera menyadari kalau gadis ini adalah gadis yang ada di lukisan di depan mereka.

“Ah… Nona…” Hesselius membungkuk untuk memberi salam pada nonanya. “Tuan-tuan, saya perkenalkan pada anda Lady Lucy Westenra Dracul. Beliau adalah salah satu anggota keluarga Dracul,” Hesselius lalu berjalan ke arah nonanya dan memperkenalkan Sinclair dan Mortimer.

“Senang bertemu dengan anda,” ujar Sinclair dengan nada dan bungkukan yang dipaksakan. Mortimer memperkenalkan dirinya juga namun dengan suara yang agak terbata-bata. Entah kenapa ia merasakan sesuatu yang aneh dari gadis bernama Lucy itu.

Lucy membungkuk memberi salam dan ia pun berpaling pada Hesselius, “apakah masih lama?” tanyanya dengan suara halus seakan berbisik.

“Nona, sudahkah kukatakan untuk sedikit lebih sopan di depan para tamu,” ia mengalihkan pandangannya pada para tamu, “saya minta maaf sekali lagi. Sepertinya keberadaan saya sedang diperlukan.”

“Tidak apa-apa,” ujar Sinclair kali ini dengan lebih tenang. Sebuah pikiran sepertinya terlintas di benaknya. “Mungkin kami akan kembali lagi apabila ada yang perlu didiskusikan.”

“Kami akan sangat bangga menerima anda. Kastil Bran mungkin memang jarang dikunjungi namun kami, terutama Nona, selalu merasa senang setiap ada kunjungan.” Lucy mulai menarik-narik lengan baju Hesselius. Ia terlihat sangat ingin cepat pergi dari situ. “Saya dengan berat hati tidak dapat mengantar anda sekalian keluar namun saya sudah meminta bantuan Aimee.”

Dengan anggukan kecil, Hesselius mengikuti nonanya pergi.

“Tuan-tuan, silakan ikuti saya,” suara Aimee tiba-tiba terdengar di ruangan tersebut. Ia sudah membukakan pintu pada para tamu untuk kembali.

Perjalanan kembali ke limousin terasa lebih sepi tanpa pembicaraan. Sinclair tampak sedang berpikir namun dilihat dari senyum puas di wajahnya jelas sekali kalau ia sudah menemukan jalan keluar untuk masalahnya. Mortimer dan pria lainnya sedang dipenuhi rasa tidak nyaman yang kembali muncul dan khususnya mereka sedang dihantui pertanyaan kapan Aimee masuk ke ruangan itu. Selain itu juga muncul pertanyaan-pertanyaan lain dalam benak Mortimer ketika ia menyadari kalau tidak satu pun ruangan di kastil ini yang dilengkap dengan jendela.

Ketika Sinclair sampai ke mobil, ia terkejut lima supir jip yang lain sedang duduk-duduk di dalam limousin bersama si supir limousin. Ia pun segera memarahi mereka dengan ancaman pemotongan gaji. Sayang sekali ia tidak memperhatikan tubuh mereka yang gemetaran dan wajah yang pucat pasi yang menunjukkan kalau mereka sedang tidak menikmati waktu luang namun memuaskan insting bertahan hidup mereka dengan tetap berkumpul bersama.

Pemandangan aneh yang disaksikan Mortimer tidak selesai sampai situ. Ketika iring-iringan mobil keluar dari gerbang, ia melihat di sudut matanya seorang gadis kecil berambut pirang diikal melingkar berdiri dekat pintu gerbang. Yang menarik perhatian Mortimer adalah matanya yang kosong seperti mayat dan sepasang baut logam yang menonjol dari bagian pelipisnya. Dengan penuh ketakutan ia segera memalingkan pandangannya dari kaca mobil.

“S-s-sir, kurasa kita perlu bi-bicara…”

“Ah, ya… Betul sekali Mortimer. Dengar aku sudah menyusun ‘strategi’ supaya keluarga bulukan ini mau melepaskan properti mereka.”

“Sir, k-kurasa bukan itu yang ingin kubicarakan…”

“Dengar, Mortimer,” lanjut Sinclair tanpa menggubris asistennya. “Gadis Lucy itu… Aku bisa lihat dia semacam emas bagi keluarga usang itu.”

“S-sir, sebaiknya…”

“Gadis ningrat seperti itu mahal, Mortimer,” ujarnya sambil menuangkan Pinot noir ke dalam gelas, “dan dilihat dari lukisan di ruang kerja sepertinya gadis itu akan menjadi pukulan yang sangat berat bagi keluarganya apabila dia tiba-tiba… menghilang.”

Saat ini Mortimer tidak mengeluarkan suara apa-apa. Mulutnya hanya membuka dan menutup. Profesionalitasnya dan kemanusiaannya seperti beradu satu sama lain. Kemanusiaan yang ada pada Mortimer bukanlah perasaan takut pada rencana si bos yang jelas-jelas akan melibatkan gadis muda itu melainkan perasaan dalam dirinya kalau ada sesuatu yang benar-benar menakutkan akan terjadi apabila mereka berani menyentuh si gadis bernama Lucy.

“Aku tidak ingin membuat banyak kerusakan pada kastil itu. Setiap lecetan kecil dapat mengeluarkan Benjamin Franklin tercinta dari rekeningku. Namun gadis itu adalah batangan Klondike, Mortimer! Insting Teksasku mengatakan apa pun akan diberikan oleh mereka supaya gadis kecil tercinta kembali. Pikirkan saja, Mortimer! Mungkin ini dapat memberikan sedikit pukulan di tempurung keras mereka dan membuat mereka sadar kalau sebaiknya mereka hidup saja menjadi keluarga Romania yang sederhana dan gembira daripada memegang aset besar tanpa tahu harus dikemanakan.” Sinclair pun meneguk winenya. Jiwanya yang mulai bersemangat sepertinya juga mulai membakar tenggorokannya.

“Dua minggu, Mortimer. Para ‘pegawai’ pribadiku akan melakukan operasi pengamatan akan kebiasaan nona kecil kita selama dua minggu dan sisanya seperti biasa. Aku sendiri akan mengamati semuanya dari dekat. Bagaimanapun juga akulah VIP-nya dan aku ingin sekali bernegosiasi secara layak dan benar tidak seperti penghinaan yang baru kita terima.”

Sinclair mengisi lagi gelasnya dan gelas Mortimer. Ia pun bersulang dengan senyum lebar di wajahnya.

“Untuk kejayaan Sinclair Internationals Inc. dan Draculand yang akan kita bangun di atas tanah ini!”

                Mortimer juga mengangkat gelasnya namun yang ada di wajahnya hanyalah rasa takut. Pikirannya entah kenapa seperti tidak berada di situ namun masih tertinggal di Kastil Bran. Tertinggal sendirian di Kastil Bran yang kuno.

 

“Tak ada perubahan dalam rencana kita dan aku tidak mau mendengar omong kosong kalian lagi! Terutama kau, Mortimer! Aku sudah mengenalmu lebih dari 20 tahun dan jangan mengecewakanku!”

Sinclair masuk ke limousinnya dan membanting pintu. Mortimer mengikutinya masuk dari pintu lain.

“Tolong pertimbangkan lagi, Sir! Bukankah ini konyol? Kita melakukan survei selama 14 hari dan setiap hari kita harus mengganti tim kita? Semua tim yang kembali selalu ditemukan pucat pasi dan berteriak-teriak. Semua video dan rekaman ditemukan berkabut. Informasi yang bisa kita dapatkan hanyalah dari tulisan tangan mereka di notepad itu pun sebelum berubah menjadi semecam… semacam… narasi kegilaan! Lagipula tempat macam apa yang bisa selalu muncul berkabut di gambar satelit? Bahkan helikopter kita tak ada yang bisa terbang mendekati! Selalu ada kegagalan mesin ketika mereka mendekati tempat itu! Percayalah, Sir! Ada yang aneh dengan kastil Bran dan apapun itu sebaiknya kita jangan macam-“

“Diam, Mortimer!” Sinclair bereseru dengan lantang. Tangannya mencengkeram mulut Mortimer dan urat-urat di tangannya menunjukkan ia sepertinya siap memecahkan kepala asistennya itu. “Jangan mempermalukan namaku. Apa yang akan dikatakan orang lain bila mereka tahu tangan kananku masih percaya dengan isapan jempol. Dengar! Setelah kulepaskan tanganku, kau hanya perlu duduk manis di situ. Bersiap-siaplah untuk evaluasi kerjamu setelah kita kembali ke AS!”

Ia melepaskan tangannya sembari mendorong kepala Mortimer ke jok mobil.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan orang-orang bodoh itu namun aku yakin semua modal yang kukeluarkan akan kembali. Aku sudah banyak keluar uang untuk proyek ini dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”

Kastil Bran berdiri dengan megah di seberang gunung dan saat ini Sinclair sedang menunggu orang-orang suruhannya kembali dengan tamu spesialnya.

Dari laporan pengamatan selama dua minggu, Sinclair mendapatkan suatu informasi yang sangat berharga. Kastil Bran sama sekali tidak memiliki penjagaan. Tidak ada penjaga pribadi, tidak ada alarm, tidak ada pengawas, tidak ada apa pun yang melindungi daerah kastil dari penyusup. Bahkan sejak empat hari terakhir, tim yang dikirimnya telah berhasil menyusup ke dalam taman di sekitar kastil walaupun setengah dari anggota tim terpaksa dimasukkan ke rumah sakit jiwa dan sisanya langsung keluar dari perusahaan dan kembali ke Amerika mungkin menjadi peternak.

Selain minimnya penjagaan, info menarik yang diperoleh adalah kebiasaan target mereka. Lucy Westena Dracul selalu keluar ke taman setiap pukul 7 pagi mungkin untuk menghirup udara segar. Ia biasanya hanya ditemani oleh si pemuda bernama Hawthorn Hesselius atau kadang-kadang sekali seorang gadis muda seusianya yang sepertinya adalah pengurus kebun kastil itu karena menurut laporan ia sering ditemukan mengurusi bunga. Entah siapa pun gadis itu namun setiap anggota tim yang mengamatinya selalu setiap malam ditemukan dalam keadaan kritis seperti energinya tersera habis. Beberapa terlihat kejang-kejang dan yang lain seperti mengalami campuran antara orgasme dan mimpi buruk.

Baik itu adalah Hawthorn Hesselius atau si gadis, mereka hanya berdua dengan sang nona. Tugas mereka sepertinya hanyalah mengikutinya dari belakang dengan payung sambil menunggu nona mereka melihat-lihat mawar. Kebiasaan jalan pagi ini rutin sampai sekitar jam 8 dan setelah itu si nona tidak pernah keluar dari kastil lagi.

“Mari kita nonton TV, Mortimer. Mungkin itu bisa membuatmu agak lebih tenang.”

Sinclair mengambil remote dan dengan satu tombol, sebuah TV muncul dari langit-langit mobil. TV tersebut menayangkan sebuah rekaman yang agak buram dan berkabut namun mereka masih bisa melihat sedikit apa yang terjadi. Acara yang ditayangkan tampak seperti rekaman langsung dari head-mounted camera. Tampak si perekam sedang berada di sebuah taman bunga yang luas dan di kejauhan terlihat Kastil Bran. Jam di kanan bawah rekaman menunjukkan waktu 6.55.

“Sedikit lagi showtime!” ujar Sinclair dengan tidak sabar.

Untuk waktu yang cukup lama rekaman tampak kacau balau dan buram sampai jam menunjukkan sekitar 7.12 dan baru si perekam berdiri tegak lagi dan pemandangan terlihat lebih masuk akal.

Di kejauhan tampak Lucy sedang memandangi bunga-bunga mawar. Rambut emasnya terlihat sangat jelas di rekaman itu dan ia mengenakan gaun berwarna putih. Kastil Bran agak susah terlihat karena tertutup semak mawar yang setinggi hampir tinggi pria dewasa. Di belakang Lucy adalah Hawthorn Hesselius yang seperti biasa berdiri di belakang dan memayungi nonanya. Ia sepertinya sedang berbincang-bincang dengan si gadis tukang kebun. Tampaknya ia mengatakan sesuatu yang membuat gais itu entah kesal atau marah namun jelas ia mulai mengomel. Mortimer sekilas seperti melihat kadang-kadang muncul seperti sayap kelelawar dari pinggang si gadis namun ia tidak mengatakan apa-apa pada bosnya dan hanya berharap kalau itu hanyalah kesalahan akibat buruknya kualitas rekaman.

Dengan tiba-tiba tampak sebuah bom gas air mata dilepaskan ke arah tiga orang itu dan situasi menjadi kacau. Beberapa orang berpakaian hitam dengan senjata api bergerak ke arah mereka dan saat keadaan menjadi tidak jelas di rekaman, Sinclair mematikan TV.

                “Dan kita menunggu.”

 

Gadis berambut emas itu terdiam menatap ke arah Sinclair dan Mortimer. Ia terlihat tenang walaupun beberapa menit lalu baru saja menikmati jalan-jalan paginya sebelum tiba-tiba digotong ke dalam limousin dengan wajah yang tertutup dengan penutup kain. Di kiri kanannya duduk dua pria berpakaian ala militer dengan tubuh yang kekar namun entah kenapa terlihat seperti berkeringat dan gemetaran. Pelan-pelan gadis bernama Lucy itu mencoba untuk menggerakkan tangannya di belakang punggung namun ia menyadari kalau sebuah borgol besi telah membatasi gerakannya. Limousin yang dikendarainya sedang melaju menjauh dari kastil Bran diikuti dengan tiga mobil jip di belakang.

“Kita bertemu lagi, nona Lucy Westenra Dracul,” ujar Sinclair dengan penuh senyum ramah.

“Inikah caramu memperlakukan seorang Lady?”

“Oh, gadis yang terus terang. Aku suka orang-orang sepertimu. Mengingatkanmu pada orang-orang Teksas.”

“Kau orang Teksas?” tanya Lucy dengan penuh kepolosan dan Sinclair menjawabnya dengan penuh bangga. “Orang Teksas terakhir yang kulihat kehilangan nyawanya di Borgo Pass.”

Wajah Sinclair mulai mengkerut mendengar jawaban itu namun ia tetap berusaha tenang. Optimismenya belum mau menghilang walaupun di luar terlihat mendung mulai menyelimuti daerah itu.

“Nona kecil, tentunya anda mengerti mengapa kami melakukan hal ini bukan? Kami ingin sekali berdiskusi dengan keluarga Dracul namun sayangnya orang-orang penting dari keluarga anda sepertinya tak mau berbicara denganku dan seenaknya membuat keputusan sendiri. Namun aku yakin kalau kau yang mengajak berbicara pasti akan lebih mudah beres.”

“Aku dengar dari Hesselius tentang apa yang kalian inginkan dan jujur saja aku sendiri agak tertarik namun kau tahu semua itu sudah ditentukan jauh sebelumnya.”

“Nah, oleh karena itu mungkin anda bisa membantuku menghubungi ayahmu. Aku yakin semua ini bisa diselesaikan dengan baik-baik.”

“Ayahku sudah tiada,” jawab Lucy dengan suara pelan.

“Oh?” Sinclair tampak memaksakan ekspresi iba, “aku harus menyampaikan pesan duka citaku. Kalau begitu bagaimana dengan Ibu atau kerabat lain yang bertanggungjawab?”

“Aku tidak punya saudara lain. Semua telah lama tiada”

“Apa maksudmu?”

“Jangan bodoh, orang Teksas. Dapatkah kau melihat kenyataannya?” sebuah senyum lebar muncul di wajah Lucy.

“Jangan bilang…” ekspresi Sinclair mulai berubah menjadi geram, “kaukah kepala keluarga Dracul?”

“Bisa dibilang begitu.”

“Kaukah yang menolak semua proposalku dan dengan seenaknya mengusirku tanpa diskusi terlebih dahulu?”

Langit di luar mulai menggelap dipenuhi awan. Sinar matahari sudah tidak mampu menembus gumpalan awan itu.

Mortimer mulai measa ketakutan namun bukan pada amarah bosnya. Suasana ini terasa sangat mencekik lehernya. Senyum Lucy Westenra yang sepertinya sangat bahagia dan bosnya yang terlihat mulai kehabisan kesabaran. Pelan-pelan ia mulai mengingat sesuatu yang aneh. Sesuatu yang tidak wajar. Sesuatu yang membuatnya sangat takut pada sang nona di hadapannya.

“Aku punya banyak hal untuk diurus. Tentunya ada beberapa hal yang masuk ke dalam skala prioritas dan tentunya kunjungan darimu bukanlah sesuatu yang sangat memerlukan kehadiranku. Bukankah butler-ku cukup membantumu kemarin?”

“Kamu mengirimkan pembantu untuk negosiasi? Penghinaan macam apa ini?” tangan Sinclair mengepal dan urat-uratnya mulai menyembul dari dahi. “Tahukah kau, gadis kecil? Aku memegang takdirmu saat ini. Aku bisa melakukan apa saja padamu dan aku punya cukup uang untuk membuat semua mimpi burukmu terjadi. Aku bisa saja menjualmu dan melepaskan semua harga dirimu.”

“Jangan berbicara tentang harga diri, kakek tua, kalau kau memerlukan uang untuk mencapai itu semua. Itulah yang membedakan standar kami keluarga Dracul dengan… orang-orang Teksas sepertimu.” Tak ada ekspresi takut muncul di wajah Lucy. Sebaliknya ia terlihat senang sekali. Saat ini ia terlihat seperti gadis kecil yang menunggu jam tayang acara TV kesukaannya.

“S-s-sir… Kurasa kita sudahi semua ini. Gadis ini adalah kabar buruk-“

“Kutanya sekali lagi, tahukah siapa aku? Aku adalah Ronald Sinclair, kepala Sinclair Internationals Inc. Dan kutanya dirimu. Siapakah kamu, jalang kecil? Hanya seorang gadis bangsawan dari sistem aristokrasi yang sudah punah. Aku sudah muak sejak menjajakkan kaki ke kastil kalian. Orang-orang aneh yang bertingkah layaknya monster, terlepas dari peradaban manusia. Kalau kalian ingin bermain monster, aku telah melakukan lebih baik dari kalian. Aku membuat orang lain taku dan ngeri sementara kalian hanya menghabiskan kesabaranku.

“Aku memberikanmu satu kesempatan, Ms. Dracul,” ujar Sinclair tanpa menggubris Mortimer, “tarik semua kata-katamu dan turuti kehendakku dan kau bisa kembali dengan utuh.”

“Maaf sekali, Mr. Sinclair. Menarik kata-kataku berarti berbohong dan tentunya semua orang dengan harga diri telah diajari untuk tidak berbohong, kan?”

“S-sir! Hentikan, Sir!”

Tangan Sinclair terangkat dan dengan penuh tenaga menuju ke wajah Lucy. Sesaat terdengan suara pukulan yang keras sekali bersamaan dengan gelegar sambaran petir. Mortimer memalingkan wajahnya karena tak mampu melihat apa yang terjadi. Ketika suara itu reda ia pun memberanikan diri membuka matanya.

Dua pria di kiri dan kanan Lucy tampak kaget setengah mati. Ekspresi bosnya juga terlihat berbeda. Ia seperti kehilangan semua aura percaya diri yang biasanya kental mengelilinginya.

Tangan Lucy Westenra mencengkeram dengan keras tangan Sinclair sampai berwarna kemerahan. Borgol yang mengunci tangannya telah pecah menjadi serpihan-sepihan rantai.

Dengan santai Lucy melepaskan genggamannya. Sinclair yang ketakutan pun menarik dan mulai mengelus-elus tangannya dan ia pun tersadar kerasnya cengkeraman gadis itu sampai tangannya sudah mati rasa.

“Kau tadi berbicara tentang monster, kan? Jujur saja aku sudah merenungi ungkapan ‘monster’ untuk waktu yang sangat lama. Memang benar kata-katamu, kakek tua, kami adalah monster yang terlepas dari peradaban….”

Pria di kanan Lucy mulai menarik pistolnya sedangkan di kirinya mulai menyambar tubuhnya. Dengan gerakan yang ringan namun hampir tak terlihat oleh mata, tangan kanan Lucy telah meremukkan tangan pria di kanannya yang memegang pistol. Pria itu pun mulai merintih kesakitan sedangkan pria di kirinya sudah kehilangan kesadaran karena kepalanya telah terhantam ke pintu mobil.

Suara kekacauan itu membuat supir limousin menghentikan mobilnya dan berlari keluar meminta pertolongan.

“Namun kami masih mengamati ‘peradaban’ kalian dari jauh. Kami mengetahui semuanya. Bukankah pertanyaannya sebaiknya dibalik?”

Mortimer gemetar sangat kuat. Ia berusaha menarik pistol yang selalu ia siapkan di balik jaketnya namun tangannya seasa bukan dalam kuasanya lagi. Mata Lucy Westenra yang biru tajam seperti menembus tubuhnya. Di pojok matanya ia bisa melihat sekilas bosnya juga dalam kondisi yang menyedihkan. Bosnya yang dikenalnya tanpa takut dan bahkan mampu mengintimidasi Presiden Amerika Serikat sekalipun.

Pandangannya mulai kabur dan jantungnya yang berdetak keras membuatnya merasa seakan-akan semua oksigen di dunia ini tidak mampu memenuhi kebutuhannya. Namun di tengah ketakutannya ia mengingat sesuatu yang membuatnya lebih takut dan menyadari apa yang duduk di hadapannya.

“Kalianlah yang selalu menutup mata atas keberadaan kami. Bertingkah seakan-akan kami hanyalah isapan jempol dan merasionalisasi dengan kebodohan generasi yang telah lewat.” Lucy mencondongkan badannya dan menatap dengan dalam ke arah dua pria itu. Kegelapan seakan menutupi wajahnya namun terlihat jelas suatu senyum kejam dengan gigi-gigi yang tajam. “Mr. Sinclair… negosiasi ini pasti akan lebih sukses kalau kau tahu berurusan dengan ‘apa’.”

“L-Lucy Westenra D-Dracul…” mulut Mortimer mulai berkomat-kamit sendiri. Ingatannya pun mencuat dengan deras dan ia pun menjadi pucat seperti tengkorang. Matanya yang mengecil ketakutan menatap Lucy. “L-l-lukisan… ruang kerja… T-tidak….”

“Mortimer! Ada apa, Mortimer? Hei!” Sinclair pun berseru sambil menggoyang-goyangkan badan temannya itu.

“Lukisan itu… p-plat di bawahnya… Tertulis… D-d-dilukis tahun 1910…”

Cengkeraman Sinclair pun melemah. Badannya dengan lunglai jatuh tersandar ke jok mobil.

“Pernahkah kau melihat monster sungguhan, Mr. Sinclair? Selalu ada waktu pertama untuk semuanya.”

Mortimer pun menjerit ketakutan dan dengan panik membuka pintu mobil dan berlari keluar.

“Manusia yang jujur. Kurasa dia bisa menjadi atasan yang lebih baik darimu, Mr. Sinclair,” ujar Lucy degan nada bercanda.

Pria yang tangannya diremukkan Lucy bergegas keluar disusul dengan Sinclair yang berseru-seru.

“Penjaga! Penjaga! Bunuh gadis ini! Bunuh-“

Lututnya menjadi lemas dan ia pun jatuh berlutut ketika ia melihat semua tentara sewaannya telah terbaring di tanah. Beberapa kehilangan tangannya. Ada yang kehilangan kakinya. Beberapa hanya terlihat dengan sayatan yang bersih namun dilakukan dengan sangat profesional sehingga hanya mencabik otot yang membuat mereka bergerak. Semuanya masih hidup namun wajah mereka menunjukkan kengerian seakan ingin berujar kalau lebih baik mereka mati saja saat itu.

Pria yang tangannya remuk itu mengambil pistol dengan tangan kirinya namun sosok bayangan muncul dengan sekejap dan tak lama kemudian ia terjatuh tengkurap dan darah menyembur dari tangannya.

“Saya sangat mohon maaf sekali, Mr. Sinclair,” Hawthorn Hesselius sudah berdiri di samping pria itu. Tangannya menggenggam sebuah payung di tangan kirinya dan empat bilah pisau lipat yang sudah berlumuran darah di tangan kanannya namun tidak ada satu pun noda darah di kemejanya. “Nonaku yang meminta supaya tidak ada pengamanan di sekitar kastil supaya Beliau bisa bermain dengan kalian. Seharusnya aku bisa mecegahnya melakukan hal egois seperti ini namun aku tidak di dalam posisi untuk menyanggah perintah nona. Sekali lagi aku minta maaf.” Ia membungkukkan badannya dengan hormat namun senyum di wajahnya hanya membuat Sinclair semakin dipenuhi rasa takut.

“Thorn! Kadang-kadang aku harus memukulmu karena tidak sopan!” Lucy pun keluar dari limousin dan merapikan gaunnya.

“Ah, nona! Dengan penuh hormat, memberikan kritik yang membangun juga adalah tugas seorang butler.”

“Aku hanya melihat sarkasme, Thorn. Lagipula aku kan tidak memintamu untuk datang.”

“Maafkan aku namun kurasa matahari siang tidak baik untuk kesehatan nona dan lagipula kita akan menghadapi banyak kesulitan apabila nona lepas kendali di kantor Mr. Sinclair yang baik hati ini.”

Lucy menyilangkan tangannya dan cemberut dengan kesal.

“Ini bukan pertama kalinya kau seenaknya mengambil kesenanganku.”

Sinclair pun memanfaatkan saat ini untuk menarik pistol dan melepaskan dua tembakan, ke arah Hesselius dan Lucy.

Terdengar suara ‘ting’ kecil bersamaan dengan Hesselius yang membelokkan peluru Sinclair dengan pisau di tangannya. Sementara satu peluru tepat mengenai perut Lucy.

“Oh, tidak…” ujar Hesselius sambil berjalan mendekati nonanya.

Sinclair mulai tersenyum. Setidaknya satu monster berhasil dibunuhnya. Sekarang ia hanya perlu lari dan-

Lucy pun tersenyum kembali.

“Kau tidak apa-apa, nona?” Hesselius berlutut sambil memegang tangan nonanya. Ia memeriksa dengan seksama luka tembak terserbut. Luka yang sesaat kemudian memuntahkan kembali peluru Sinclair dan menutup kembali.

“Beruntung sekali saat ini sedang mendung, nona. Ataukah ini juga salah satu ulah anda?”

“Thorn… Thorn… Kau harus berterimakasih pada Mr. Sinclair ini. Kaca mobilnya cukup gelap bagiku untuk memusatkan sedikit tenagaku yang tersisa untuk memanggil badai,” jawabnya sambil menatap Sinclair dengan penuh hina.

“Begitukah, nona?” Hesselius berdiri dan menatap Sinclair. “Terimakasih banyak, Mr. Sinclair. Nona kami cenderung mengalami masalah anemia di bawah sinar matahari. Mungkin semacam alergi.”

“Akan kulupakan ledekanmu barusan, Thorn. Saat ini aku ingin bermain-main sedikit dengan Mr. Sinclair.”

Sinclair yang panik pun berteriak sambil menembakkan semua isi pistolnya pada Lucy. Setelah itu ia mengambil pistol pria yang bergeletak di dekatnya dan menghabiskan juga semua isinya.

Namun tidak ada satu pun tembakan tersebut yang berarti. Hanya perlu beberapa saat sampai tubuh Lucy menunjukkan seakan-akan tidak pernah ada tembakan apapun. Yang tersisanya hanyalah beberapa bolongan di gaunnya.

“Ini gaun favoritku.”

“Tenang, nona. Violetta akan mencarikan gaun baru.”

“Selera Violetta jelek,” Lucy pun mengalihkan pandangannya dari Thorn ke arah Sinclair. “Sudah selesai, Sinclair?”

Lucy tersenyum riang dan mengangkat tangannya. Thorn hanya mendesah panjang dan membuka payung yang dibawanya. Hujan pun mulai berjatuhan di tempat itu.

“A-apa-apaan kamu?” mulut Sinclair gemetaran dan setiap kali ia berusaha brdiri dan berlari, ia pun terjatuh lagi dan lagi sampai ia akhirnya menyerah dan merangkak di tanah yang berlumpur. Usahanya pun sepertinya gagal ketika tubuhnya terasa kaku seakan-akan tatapan mata Lucy Westenra mengikatnya dengan rantai.

“Hmmmhmm… menurutmu sendiri aku apa?”

“Nona… hanya peringatan kecil kalau mengkonsumsi makanan yang tidak jelas dapat menyebabkan sakit perut.”

“Thorn-ku, apa yang tidak membunuh tentunya hanya akan membuat keabadianmu semakin meriah.”

                Suara Sinclair tertahan seraya cengkeraman kuat Lucy Westenra menahan lehernya dan mengangkatnya sampai kakinya bergerak-gerak di udara. Hal terakhir yang diingatnya sebelum seluruh kesadarannya hilang ditelan oleh teror di depannya adalah wajah gembira Lucy dengan matanya yang kini berwarna merah darah. Mulutnya yang ternganga dan gigi-giginya yang tajam. Dan lidah yang tak sabar menikmati hidangan brunch pagi itu.

 

Seorang loper koran sedang menjalankan rutinitas sehari-harinya. Usianya yang sudah senja tidak menghentikannya untuk menikmati pekerjaannya. Ia sulit mengalah apalagi pada generasi muda. Menurutnya adalah bagian dari tanggungjawabnya untuk memberikan contoh pada generasi muda bangsa Romania arti dari kegigihan. Termasuk mengantarkan koran bahkan sampai ke kastil yang sangat jauh di atas gunung yang tentunya sangat dihindari oleh loper koran lain karena jaraknya dan fakta sederhana kalau kastil itu memang menakutkan. Namun ia telah menjadi loper koran selama hampir 50 tahun dan baginya penghuni kastil itu adalah salah satu pelanggan setianya. Tak ada yang berubah untuk hampir setengah abad.

“Silakan, Nona Fran,” ujarnya seraya menyerahkan setumpuk koran pada seorang gadis berikal dengan kedua batang besi menonjol di pelipisnya yang berdiri di depan gerbang. Si gadis hanya diam dan membungkukkan badan sambil membawa tumpukan koran tersebut ke kastil.

Jam 9 tepat, batin si loper koran sambil melihat arlojinya. Tepat waktu seperti biasanya walaupun dia masih agak kesal karena kemarin tugasnya sempat terlambat karena badai yang tiba-tiba muncul di pagi hari tepat di tengah musim panas. Selalu ada saat-saat sial, pikirnya. Setidaknya senyum puas pelanggan adalah senyum puas dirinya. Apalagi pelanggannya yang satu ini adalah orang penting di daerahnya.

“Sampaikan salamku pada Lady dan yang lainnya,” serunya pada gadis bernama Fran dari balik gerbang.

                Gadis itu menjawab dengan lambaian satu tangan karena tangannya yang lainnya sedang sibuk menopang sepuluh eksemplar koran sekaligus.

 

MULTI MILYADER AMERIKA DISERANG HEWAN BUAS?

 

Brasov. Multi Milyader terkenal Amerika dan pemilik Sinclair Internationals Inc. , Ronald Sinclair (63), ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Menurut tim SAR yang segera datang setelah dihubungi oleh supir Sinclair, mereka menemukan sang businessman tersebut dalam keadaan kritis dan kekurangan darah. Saat ini Ronald Sinclair masih terbaring lemah di Rumah Sakit Brasov dan belum sadar. Tentara bayaran Ronald Sinclair yang diketahui sering menemani Sinclair dalam perjalanan jauh semua ditemukan dalam kondisi mengerikan. Enam orang kehilangan tangan atau kakinya sementara sembilan lainnya ditemukan dengan luka sayatan yang dalam. Tidak ada satu pun korban jiwa dalam serangan ini namun para korban yang telah sadar tidak dapat menceritakan apa yang terjadi. Ketika para wartawan mencoba untuk menggali lebih lanjut, beberapa hanya berteriak dan bergumam-gumam mengenai monster. Sekretaris pribadi Ronald Sinclair, Allenbeck Mortimer, ditemukan oleh polisi delapan belas jam setelah penemuan tim SAR. Mortimer ditemukan sedang duduk memeluk kakinya sambil mengucapkan doa Bapa Kami. Saat ini Mortimer sedang dalam penanganan psikiater karena trauma yang mendalam. Supir yang pertama kali melaporkan kejadian itu berjanji untuk memberikan keterangan lengkap mengenai apa yang terjadi dan dilakukan oleh sang milyader di tengah hutan dekat Brasov namun ketika ditemui pagi tadi, supir tersebut ditemukan dalam keadaan hilang ingatan dan tubuh yang lemas. Polisi bekeja sama dengan ahli kejiwaan berusaha menggali lebih jauh informasi dari supir yang tidak mau disebutkan namanya tersebut karena ia adalah yang terlihat memegang informasi lengkap sebelum kondisi aneh yang menimpanya.

Informasi yang berhasil dikumpulkan menyatakan kalau Ronald Sinclair berkunjung ke Romania dalam urusan bisnis. Beliau datang untuk menemui keluarga Dracul yang merupakan tuan tanah sekaligus kepala daerah Transylvania dan Wallachia. Setelah diskusi tersebut, Sinclair menyatakan akan memperpanjang masa tinggalnya untuk liburan namun setelah itu tidak ada informasi lagi mengenai kegiatan beliau di daerah itu.

Pemerintah Romania juga sering menegaskan kalau daerah pegunungan Transylvania dan Wallachia memang terkenal berbahaya khususnya daerah di sekitar Kastil Bran, Kastil Hunyad, dan Borgo Pass. Pemerintah daerah sering memperingatkan turis dan pendatang untuk menjauhi daerah tersebut karena tingginya angka serangan binatang buas. Saat ini belum diketahui jenis binatang apa yang menyerang rombongan Ronald Sinclair dan banyak yang mempertanyakan mahkluk apa yang mampu menyebabkan kekacauan pada tim tentara bayaran yang seharusnya mempersiapkan semuanya untuk melindungi klien mereka.

Selebihnya di halaman 11.

 

“Ya ampun… ya ampun…” gumam Thorn sambil melipat dan meletakkan koran The Chronicler di atas meja. “Untung saja Nona tidak kelewatan. Kita hampir saja menjadi bahan pembicaraan media massa.”

“Memang sudah seharusnya semua baik-baik saja, Thorn,” jawab Lucy dengan santai. Ia sedang sibuk memusatkan perhatiannya mengisi kotak-kotak sudoku di koran Romania Today. Puzzle di lima koran sudah diselesaikan dan masih ada lima lagi untuk diselesaikan.

“Bagaimana dengan si supir? Kita hampir saja kena masalah kalau saja Aimee tidak mengingatkan.”

“Sekali-kali biarkan Violetta menjalan tugasnya.”

“Violetta tidak menyukai ‘tugasnya’. Untung saja semuanya terjadi tanpa menarik perhatian atau nama Nona bisa-bisa masuk ke dalam novel misteri lagi.”

Thorn merapikan lima eksemplar koran yang berceceran di sekitar nonanya. Memang itulah kebiasaan sang nona; ia berlangganan sampai sepuluh eksemplar koran karena semuanya memiliki teka-teki sudoku harian. Ketika ditanyakan ia selalu menjawab kalau puzzle tersebut akan menjadi tren international kurang dalam satu dekade mendatang.

“Aku mulai bertanya-tanya. Jangan bilang Nona memang sudah sengaja memprovokasi Mr. Sinclair.”

“Apa maksudmu?” untuk sesaat Lucy terlepas dari puzzlenya dan menatap pada Hawthorn.

“Membiarkanku yang menemui mereka. Keputusan satu pihak. Sengaja muncul di saat terakhir. Membiarkan semua strigoi dan revenant beristirahat. Semuanya terlihat seperti Nona yang menyiapkan semuanya.”

“Bagaimana menurutmu?” Lucy menjawab dengan pertanyaan lalu perhatiannya pun kembali pada kotak-kotak di depannya.

“Hahaha… aku tidak pada tempatnya untuk mengira-ngira apa yang ada di dalam benak Nonaku. Seorang manusia biasa sepertiku tidak akan bisa menebak yang ada di pikiran kaum bangsawan seperti Nona.”

“Kuanggap saja itu pujian, Thorn.”

“Memang sudah maksudku untuk memuji, Nona.”

Thorn lalu meletakkan eksemplar-eksemplar tersebut di atas kabinet dan melanjutkan pekerjaannya mengelap pernak-pernik antik di ruang rekreasi tersebut.

“Namun Nona,” serunya tanpa melihat ke belakang pada sang nona yang sedang asyik mengisi puzzle tersebut sambil tiduran di karpet, “bagaimana kalau berita yang muncul itu akan mengundang banyak tamu-tamu yang tidak diinginkan.

“Nona pasti tahu kan. Tamu-tamu pada umumnya seperti para cyptozoologist, pemburu hewan buas, pemburu bayaran, pemburu iblis, atau yang paling menjengkelkan dari semuanya… pemburu vampir.”

“Namun Thorn juga tahu kan,” suara nonanya terdengar halus di belakangnya. Hawthorn dapat merasakan pelukan dari belakang. Tubuh mungil si nona menempel di punggungnya. “Di sini sudah ada pemburu vampir yang tentunya dapat mengatasi mereka semua. Pemburu vampir paling mengesalkan di dunia. Tentunya dengan orang seperti itu, mereka tidak berarti banyak untukku karena yang bisa mengambil keabadian ini sudah kujanjikan pada satu manusia yang kuakui.”

Hawthorn hesselius tersenyum mendengar jawaban nonanya.

“Terimakasih, Nona, namun pelukan dan pujian tak bisa memaksaku meninggalkan pekerjaan hanya untuk membantumu berpikir memecahkan puzzle sudoku di World News Daily. Aimee bisa melepaskan neraka padaku kalau ia tahu,” jawab Thorn sambil melanjutkan pekerjaannya.

“Humph!”

 

Advertisements